
Jika dihitung hampir-hampir hidupku ini sama dengan tiga kali umurmu saat ini. Tentunya aku pernah berada pada posisimu dulu, menjadi seorang pemuda yang punya semangat menggebu-gebu. Aku juga tahu kau pasti sedang bergelut dengan sejuta masalah baik itu berasal dari dirimu sendiri maupun dari orang lain. Andai boleh kubagi, permasalahanmu sebenarnya hanya dua, masalah itu tak jauh-jauh dari masalah hati dan juga masalah jati diri.
Bicara masalah hati rasanya tidak relevan jika harus membandingkan urusan percintaan empat puluh tahun yang lalu dengan masamu sekarang. Dulu untuk masalah yang seperti ini kami orang yang kau bilang jadul menggunakan kertas sebagai pengutara rasa, sedang sekarang sudah tak ada yang namanya batasan lagi, baik batasan jarak, waktu maupun ruang, sekali tekan seluruh duniapun bisa mengetahuinya.
Jadi aku tak bisa berkomentar banyak tentang urusan yang satu ini. Namun, satu yang harus selalu kau pegang
“Kau mungkin boleh disakiti namun aku takan rela jika kau sampai menyakiti, aku takan rela sebagaimana orang tua lain tak rela anaknya disakiti”
Kau tahu bukan sakit tersayat pisau cukup obat merah sudah dapat mengatasi, tapi kalau yang tersayat ialah hati, hendak kemana obat penyembuh kau cari ?
Nah yang kedua masalah jati diri, mau tidak mau kali ini kau harus mengakui bahwa aku pemenangnya, aku pernah muda namun kau belum pernah tua. Dalam pengembaraan hidupmu kau pasti akan dihadapkan dengan jutaan pilihan kemana kau akan melangkah.
Saat ini ialah waktu yang sangat riskan bagi dirimu, mengapa demikian ? karena tahun-tahunmu yang akan datang ditentukan oleh jalan mana yang kau ambil sekarang.
Kau tahu tidak ? yang sekarang tengah berjalan dipinggir jalan sana yang dengan baju compang camping, badan penuh tato rambut berdiri seperti orang tersetrum, hidung, lidah, dan telinganya bukan dipasangi anting namun entah diganjal apa itu, mereka itu sama denganmu.
Eits sebelum kamu beranjak karena merasa tidak sepakat dengan analogiku ini, dengarkanlah lebih dulu.
Nah kesamaan itu dapat dilihat dari masa kecil kalian. Kira-kira apa yang mereka lakukan pada masa kecilnya ? tidakah yang mereka lakukan sama dengan yang kamu lakukan ? sama-sama berbuat baik dan sesekali nakal kan ? namun apa yang menjadikan kini kalian berbeda.
Beruntunglah, kau lahir di lingkungan yang mendukungmu, kau tumbuh dalam hari-hari yang selalu ditemani orang terkasihmu. Tidak menutup kemungkinan mereka melakukan kebaikan yang lebih daripada yang kau lakukan dimasa kecil, namun dengan berjalanya waktu mereka mulai ragu, benarkah selama ini yang mereka lakukan ialah hal yang baik. Mereka beranggapan bahwa mengapa tidak ada orang yang mengapresiasi ketika yang mereka lakukan ialah hal baik, mengapa tidak ada yang melihat mereka, saat benih kebaikan ia tebarkan.
Lihatlah apa yang kaudapatkan sekalipun prestasi yang kau torehkan itu kecil, selalu diiringi penghargaan bukan ?,
maka tumbuhlah konsep kebaikan hingga kau sebesar ini.
Mereka yang disana “banting stir” mencari kosep kebaikan menurut mereka sendiri, menginginkan keberadan mereka diakui, benar akhirnya, mereka memang dilihat orang namun bukan karena kebaikanya namun justru dilihat karena “melawan jalan yang ada”.
Maka mulai sekarang ketahuilah, belajarlah menjadi orang yang ringan mengapresiasi, tak perlu menunggu nanti ketika kau berkeluarga, masih cukup terlalu jauh jika apresiasi kau berikan pada istrimu, kepada anakmu, belajarlah dari sekarang, apresiasi segala kebaikan yang telah ditorehkan oleh orang-orang disampingmu.
Itu akan menjadi energi postif bagi orang lain untuk istiqomah memepertahankan konsep baik mereka, karena dorongan apresiasimu merupakan penghargaan tertinggi bagi mereka, penghargaan tertinggi bukan berupa harta maupun tahta, mereka dan kita semua sudah sangat-sangat bahagia ketika kita “Dianggap Ada”.