Sebuah Cerita Pendek karya Karina Putri Kelas 8G
Suara tawa gembira peserta perkemahan PMR memenuhi suasana ceria di pagi hari itu. Para peserta mendirikan tenda-tenda sebagai tempat untuk berteduh dari panas matahari dan tempat melepas lelah setelah perjalanan jauh, aroma kayu bakar tercium dari dapur umum yang menandakan jam makan siang segera tiba. Semua anggota sibuk dengan tugasnya masing-masing, namun di bawah pohon yang terletak di pojok area perkemahan, seorang anak laki-laki duduk gelisah sambil meremas ujung baju berlogo Palang Merah Remaja. Dia adalah Bagas, anggota baru PMR yang dikenal pemalu dan sering sekali mendapat teguran dikarenakan kurang fokus saat latihan. Awal mula Bagas bergabung di PMR hanya karena mengikuti jejak teman sebangkunya. Baginya mendaftar ekstrakurikuler PMR hanyalah sebatas menyerahkan formulir pendaftaran saja.
“Eh, jangan suruh Bagas deh. Nanti malah panik sendiri. Bisa-bisa nanti pos kita ditinggal tidur gitu aja sama dia”
bisik salah satu teman seangkatannya ketika pembagian tugas jaga pos. Di PMR Bagas sering kali hanya berdiri dan enggan memperhatikan materi yang disampaikan oleh kakak senior. Bagas benci sesi latihan, Bagas benci memakai rompi dan syal yang nampak kebesaran di badannya. Tangannya selalu gemetar saat memegang mitela dan membalut luka, apalagi ia seringkali lupa urutan pertolongan pertama.
“Ayo Bagas, Fokus!”
kata Kak Reno saat pelatihan di sekolah.
Hari ini, ia akhirnya mendapat tugas menjaga pos kecil di area paling terpencil, jauh dari keramaian. Bagi yang lain, tugas menjaga pos adalah tugas sepele, tapi bagi Bagas yang tidak pernah memperhatikan saat latihan, tugas ini adalah tugas berat. Dengan kotak P3K di sampingnya, Bagas duduk sendirian, berusaha menahan rasa bosan dan gelisah. Namun keadaan berubah menjadi panik setelah terdengar suara teriakan.
“Aaaaaa! Tolonggg!”
Bagas tersentak, lalu berlari ke arah suara. Seorang peserta bernama Dani tergeletak di tanah dengan kaki berdarah karena terjatuh di jalan berbatu. Wajahnya pucat, napasnya memburu.
“Ya Allah… gimana ini”
bisik Bagas. Tangannya bergetar hebat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Suara hatinya berperang:
“Aku nggak bisa… aku takut salah….tapi, kalau aku diam, dia bisa celaka!”
Bagas menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, ia mencoba mengingat kata Kak Reno
“Oke, jangan panik. Fokus, tetap tenang dan ayo kita lihat bagaimana lukanya.”
Bagas mencoba berusaha mengingat materi apapun yang berhubungan dengan pertolongan pertama. Yang pertama ia membuka kotak P3K. Biasanya ia hanya melihat kotak P3K tanpa semangat, namun kali ini ia menaruh segala harapannya di kotak itu. Ini bukan kotak P3K biasa, ini adalah bentuk tanggungjawabnya akan tugas menjaga pos siang ini.
Bagas merasa kaget karena kotak P3K itu yang biasanya penuh dengan segala peralatan latihan hanya tersisa beberapa perban, kasa steril, dan cairan antiseptik. Ia ingat, inilah kotak P3K terakhir yang ia pinjam dari temannya karena kotak miliknya ketinggalan.
“Aku takut Gas, aku ga mau diamputasi. Kakiku….”
Isak Dani karena ketakutan melihat kakinya penuh darah.
“Jangan ngomong begitu, kamu akan baik-baik saja.”
Bagas memotong.
Ia teringat dengan perkataan salah satu narasumber saat pelatihan bahwa
“Pahlawan itu bukan orang yang tidak takut, tapi pahlawan itu adalah orang yang bertindak walau takut”
Dengan tangan gemetar, Bagas membersihkan luka itu, menekan agar darah berhenti, lalu membalut kaki Dani dengan rapi. Ia tersadar bahwa semua materi yang dulu sempat ia anggap membosankan saat pelatihan. Kini, semua itu justru jadi penyelamat.
“Tenang ya… tarik napas pelan-pelan. Aku coba cari bantuan dulu,”
ucap Bagas, mencoba menenangkan Dani meski dadanya berdegup kencang.
“TOLONGGGG, ada yang terluka disini.”
Bagas mulai berteriak, ia yang biasanya hanya diam saja saat pelatihan kini justru berteriak sangat kencang untuk mencari bantuan. Bagas terus berteriak secara berulang-ulang, ia seakan lupa dengan alasannya bergabung di PMR hanya karena ikut-ikutan.
Beberapa menit kemudian, tim PMR datang membawa tandu. Mereka terkejut melihat korban sudah ditangani dengan baik.
“Bagas… kamu yang nolongin?”
tanya Kak Reno, tak percaya. Bagas hanya mengangguk pelan, wajahnya memerah. Setelah Dani dibawa pergi oleh tim PMR, Kak Reno menepuk pundak Bagas
“Kamu luar biasa Gas. Kami semua bangga sama kamu.”
Malam itu, suasana perkemahan berbeda. Bagas tidak lagi duduk di pojok bawah pohon karena menyesal bergabung di PMR. Bagas duduk di barisan paling depan, saat acara api unggun Pak Basuki selaku pembimbing PMR menceritakan kisah Bagas yang dengan berani sendirian menghadapi situasi darurat dengan peralatan seadanya. Sambil menutup kembali kotak P3K yang kini hampir kosong, Bagas tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga memakai seragam PMR. Ia telah menemukan makna sebenarnya dari mengikuti kegiatan PMR, dan lebih penting lagi, ia akhirnya menemukan arti sesungguhnya dari menolong dengan ikhlas.
