Sepatu Baru Waka Kurikulum

Sepatu Baru Waka Kurikulum

Berdiri dari kiri Pak Muntasrip, Pak Bambang Sulistiyono, Bu Halim, Puput, Temanku, Pak Fatah, Bu Ma’rifah, Isni, Bu Yulis, Pak Jito. Duduk dari kiri : Aku, Muanam, Syamsul

Hari ini, membeli sepatu rasanya bukan jadi perkara yang sulit bagiku. Ambil HP, buka markelplace online, pilih-pilih, cocok dengan modelnya, Check Out tanpa perlu banyak pertimbangan. Namun di balik kemudahan itu, ingatanku terlempar ke 12 tahun yang lalu. Tepatnya sepulang sekolah di Toko Citra utara Alun-alun Blora. Aku cukup ingat rasanya berdiri di sana, menatap sepasang sepatu seharga 100 ribuan yang baru diberikan oleh guruku.

“Iki jajali sik Ron Cocok gak ?

“Oh enggih Bu, niki mpun cocok kulo Bu, Matursuwun Geh Bu”

Penyerahan Piala KSM Tingkat Kab Blora Tahun 2014

Sepatu itu bukan hanya sekedar alas kaki, guruku membelikanku sepatu baru karena mungkin melihat sepatuku yang mulai usang. Ditambah lagi minggu depan aku harus berangkat ke MAN 2 Banyumas untuk mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Provinsi. Beliau tidak ingin muridnya melangkah dengan rasa minder di tengah siswa-siswa hebat lainnya. Guru itu ialah Bu Yulis, tetanggaku sekaligus Waka Kurikulum di MAN Blora kala itu.

Lebih dari sekedar sepatu, aku yang awalnya mulai mengubur harapan untuk lanjut sekolah akhirnya bisa kembali menyalakan api semangat belajar. Yap Bu Yulis-lah yang juga membiayaiku sekolah selama di MAN Blora, dari mulai membelikan seragam, buku, SPP bulanan, uang gedung, dan perintilan lainnya. Inilah yang menjadi dasar mengapa selama sekolah aku selalu memacu diri.

Masa Aliyah inilah yang titik balik. Di SMP aku termasuk siswa yang secara akademik lumayan namun tidak memiliki kepercayaan diri untuk maju tampil. Hal itu berubah drastis hampir-hampir seluruh kegiatan di sekolah kuikuti semua untuk ajang belajarku, OSIS, Bantara, kemudian MPK . Semangatku meledak-ledak karena satu janji di dalam hati:

“Aku tidak boleh mengecewakan orang yang sudah membukakan jalan bagi masa depanku”

Di mata saya, Bu Yulis adalah figur yang mengagumkan. Sebagai Waka Kurikulum, beliau dikenal sangat tegas dan disiplin. Namun, ada sisi magis saat beliau masuk ke kelas untuk mengajar Biologi. Cara penyampaiannya begitu enak, materinya mudah diserap, dan kehadirannya selalu dirindukan oleh kami semua. Beliau adalah standar ideal seorang guru bagi saya.

Waktu berlalu, kuliah saya telah selesai dan panggilan itupun datang. Saya lulus dari Prodi Pendidikan Kimia dan kemudian mengajar kembali di MAN Blora. Setiap hari saat berada di Madrasah isinya penuh dengan nostalgia. Romantiseme itu ternyata tidak bertahan lama. Tahun 2021 aku harus berpindah tugas di sekolah lain yaitu SMP Negeri 1 Tunjungan. Walaupun ditempatkan di sekolah yang tidak pernah punya keterhubungan apapun denganku, aku mencoba semaksimal mungkin bekerja dengan pebuh semangat.

Baru dua tahun aku mengajar, sebuah tantangan besar datang. Aku diminta untuk menjadi Waka Kurikulum. Aku sempat berpikir sejenak, menimbang-nimbang tanggung jawabnya, hingga akhirnya aku mengiyakan tawaran tersebut.

Ada rasa keren dan bangga yang sulit disembunyikan saat pertama kali aku menduduki posisi itu. Ego muda saya berbisik bahwa saya telah mencapai sesuatu yang luar biasa, di usia yang masih sangat “hijau” dan pengalaman yang baru seumur jagung, saya sudah dipercaya menduduki jabatan strategis. Aku menikmati setiap momen di kursi waka, merasa bahwa keberhasilan ini adalah pembuktian bahwa ya aku aku adalah orang yang keren.

Namun, dua tahun berjalan, realita mulai berbicara lebih keras daripada rasa bangga. Perlahan, rasa keren itu memudar dan berganti dengan kelelahan yang luar biasa. Aku baru menyadari bahwa di balik wibawa seorang Waka Kurikulum, ada tumpukan administrasi yang seolah tak pernah tidur, jadwal pelajaran yang harus disusun dengan logika yang memeras otak, hingga beban mental saat harus mengkondisikan berbagai karakter rekan sejawat guru yang jauh lebih senior. Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah, merasa ingin menyerah, dan menganggap jabatan ini hanyalah beban yang menghimpit kebebasanku.

Di tengah titik jenuh dan keluh kesah itulah, ingatanku kembali pada sosok Bu Yulis. Aku tersadar bahwa jabatan ini bukanlah tentang gelar untuk dipamerkan atau jabatan untuk merasa lebih hebat dari yang lain. Jabatan ini adalah sebuah amanah mulia untuk membawa pendidikan ke arah yang lebih baik. Bu Yulis dulu bisa bertahan bukan karena jabatannya keren, tapi karena beliau memiliki hati untuk melayani. Beliau sanggup bersikap tegas demi kebaikan, namun tetap menebar kasih sayang hingga sosoknya tetap dicintai.

Bu Yulis telah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 2019 yang lalu. Namun, bagiku, beliau tidak benar-benar pergi. Setiap kali aku menyusun jadwal kurikulum yang rumit atau berdiri di depan kelas menyampaikan ilmu, aku merasa sedang menghidupkan kembali bagian dari diri beliau. Fisiknya mungkin telah beristirahat dengan tenang, namun ketulusannya telah bermekaran dalam diri murid-muridnya.

Kini, setiap kali rasa lelah itu datang menghampiri, aku kembali menatap ‘sepatu’ tanggung jawab yang kukenakan. Aku tidak ingin sekadar menduduki kursinya, aku ingin melanjutkan napas perjuangannya. Semoga setiap langkah pengabdianku di SMPN 1 Tunjungan menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk beliau. Aku ingin menjadi seperti Bu Yulis, seorang guru yang tidak hanya mengajar dengan logika, tapi mendekap masa depan murid-muridnya dengan hati.

Al-Fatihah untuk beliau . . . ..

2 Comments

  1. shafa azzahra yang imutt

    Pakk ronni kerennn bangetttt. Jadi punya motivasi nihhh. ternyata di balik sukses nya pak ronni, terdapat kombinasi kerja keras, ketekunan, pengorbanan, dan mentalitas pantang menyerah.
    PAKK RONNI HEBATT

    • Khoironni Devi Maulana

      Ayo Shafa semangat dan tingkatkan terus belajarnya… yakin bisaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *