Saya membayangkan pagi-pagi menyiapkan materi ajar yang kreatif dengan pikiran yang tenang, lalu berangkat sekolah dengan senyum merekah, menaiki motor sambil berdendang ringan. Bukan hanya karena mengajar adalah panggilan jiwa, namun karena saya merasa dihargai secara finansial. Membayangkan Gaji saya minimal 20 Juta Perbulan.
Terdengar seperti mimpi atau kisah-kisah di film ya ? Tapi mumpung berandai-andai itu gratis mari coba sejenak kita berkhayal sebentar. Iya ya Apa ya yang akan terjadi jika Guru-guru di Indonesia digaji setara dengan profesional lainnya ?
Realita Pahit di Balik Istilah “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”
Mari kita mulai dari kondisi yang ada. Sudah jadi rahasia umum dan kita semua tahu terutama gaji guru honorer seringkali tidak sebanding dengan beban kerja yang dipikul. Guru dituntut untuk mencetak generasi penerus bangsa, menjadi orangtua kedua, menjadi psikolog, sekaligus ahli administrasi yang cakap. Sayangnya semua tanggungjawab itu ada satu kata yang sering dijadikan tameng yaitu adalah Ikhlas.
“Guru kan panggilan jiwa, Guru itu pekerjaan yang mulia, jadi kuncinya adalah ikhlas”
Kalimat ini terdengar baik, namun tanpa sadar telah mendegradasi profesi guru dari sebuah profesi profesional menjadi sebuah jasa sosial. Padahal tidak ada salahnya mengakui bahwa guru adalah profesional yang perlu dihargai dengan layak, sama seperti dokter, insinyur, atau akuntan. Mereka perlu gaji yang layak untuk memebuhi kebutuhan hidup yang layak, bukan hanya sekedar bertahan hidup.
Efek Domino Gaji 20 Juta : Perbaikan di Kelas Hingga ke Masyarakat
Apa saja kemungki yang bisa terjadi jika khayalan ini terwujud jadi kenyataan ?
Guru Akan Fokus Pada Murid
Dengan gaji yang memadai, guru tidak perlu lagi “nyambi” menjadi ojek online, berjualan pulsa, atau les privat hanya untuk menutup kebutuhan bulanan. Energi, waktu dan pikirannya bisa dicurahkan 100% untuk satu hal: Mendidik dan Menginspirasi Murid-muridnya. Kualitas pengajaran akan meningkat drastis karena guru punya ruang berinovasi tanpa dibebani pikiran bagaimana harus bayar listrik minggu depan.
Guru Bukan Lagi Jadi Pilihan Terakhir
Mari kita jujur berapa banyak dari kita yang bercita-cita menjadi guru ? atau mungkin orang-orang yang sekarang menjadi guru, mari kita tanya, kenapa dulu kuliah mengambil jurusan pendidikan ? kita akan banyak mendapat jawaban bahwa, karena tidak diterima di jurusan lain sehingga memilih program studi pendidikan.
Dengan gaji 20 juta, profesi guru akan menjadi profesi yang kompetitif. Orang-orang terbaik, lulusan-luluisan cumlaude dengan passion di bidangnya, akan rela dan bahkan bersaing ketat untuk menjadi guru. Bayangkan, kelas-kelas kita diisi oleh guru-guru yang bukan hanya pintar, tapi juga benar-benar passionate karena mereka MEMILIH profesi ini bukan terpaksa dipilih karenanya.
Mari kita bandingkan Gaji Guru di beberapa negara dan bagaimana kualitas pendidikannya berdasar PISA 2022
| No | Negara | Gaji Guru (Juta/Bulan) | Rank Matematika | Rank Membaca | Rank Sains | Keterangan |
| 1 | Singapura | 65-85 | 1 | 2 | 1 | Singapura merekrut lulusan terbaik untuk jadi guru. Gaji kompetitif membuat profesi guru sangat bergengsi. |
| 2 | Findlandia | 75-95 | 6 | 3 | 3 | Di Finlandia, jadi guru lebih sulit daripada jadi dokter. Hanya 10% pelamar yang diterima. Gaji tinggi membuat kompetisi ketat, sehingga yang terpilih benar-benar yang terbaik. |
| 3 | Korea Selatan | 150 | 4 | 5 | 6 | Guru di Korea Selatan adalah profesi elite. Mereka dihormati dan digaji setara dengan profesional top lainnya. |
| 4 | Indonesia | 3-8 (ASN) di Bawah 1.5 (Honorer) | 69 | 68 | 65 | Guru harus “nyambi” untuk bertahan hidup. Profesi guru sering jadi pilihan terakhir. |
Pola yang terbentuk sangat jelas
Negara yang menggaji Guru dengan Baik –> Menarik orang-orang terbaik –> Kualitas Pendidikan Tinggi –> Menghasilkan SDM Unggul –> Negara Maju
Apa Guru jadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi kualitas pandidikan ?
Jika dijabarkan secara umum ada tiga hal yang berkontribusi langsung terhadap kualitas pendidikan suatu negara yaitu, Kualitas guru, Sarana Prasarana, dan Kurikulum. Manakah yang kira-kira perlu diprioritaskan ?
Bagi saya Kualitas Guru harus jadi yang nomor satu. Guru adalah ujung tombak pendidikan. Kurikulum secanggih apapun, fasilitas semewah apapun, tanpa guru yang berkualitas, hasilnya ya akan biasa-biasa saja. Analoginya kita punya resep (Kurikulum) terbaik, dan Peralatan Masak (Sarana Prasarana) terlengkap, tapi jika Chef (Guru) tidak terampil, Apakah akan tercipta makanan yang lezat ?
Apakah dengan Gaji 20 juta Guru Otomatis Menjadi Rajin ?
Tentu pertanyaan ini akan selalu muncul tiap ada wacana menaikkan gaji Guru. Jawabannya sederhana : Mekanisme Pasar dan Sistem yang Ketat.
Jiaka seseorang digaji 20 juta namun kinerjanya buruk dan tidak menunjukkan peningkatan, ya mohon maaf “ditendang” saja. Itu hal yang wajar di dunia profesioan. Dengan nominal itu, antrian orang-orang berkualitas siap menggantikan posisi tersebut sudah mengular panjang. Tentunya ini akan menciptakan ekosistem yang sehat. Sistem evaluasi dan pengawasan yang ketat tentu harus menyertai kenaikan gaji ini.
” Hanya yang terbaik dan Paling Berdedikasi yang Akan Bertahan”
Yah Semoga hal yang sekarang masih dianggap sebagai mimpi di siang bolong ini suatu saat bisa terwujud di negara tercinta kita ini.

