Aku kagum kepada tiga temanku semasa aliyah. Saat mengambil raport semester satu orangtua mereka hadir dan kusimak obrolan mereka dengan orangtuanya. Ketika teman-teman lain ngobrol dengan orangtuanya seperti berbincang dengan kawannya sendiri yaitu tanpa boso kromo, tiga temanku tadi dengan luwesnya bercakap-cakap full dengan bahasa jawa kromo. Anehnya bukan hanya anak ke orangtua yang menggunakan kromo tapi orangtua ke anaknya juga. Seketika aku berkaca sambil mbatin, “Waduh aku nek karo wong lio, iso-isone luwih alus timbang yen karo wongtuoku dewe”.
Setelah kutelusuri, tiga anak ini tinggal di daerah yang dusunnya memang agak masuk ke hutan sehingga bahasa kromo menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan. Ditambah lagi dari hasil pengamatanku tadi orangtuanya dengan intens mengajarkan dan mencontohkan penggunaan kromo sedari kecil. Tidak heran jika anaknya panda bahasa jawa, la wong orangtuanya saja sudah memberikan contoh sedari kecil. Awalnya aku berniat ingin menyalahkan orangtuaku dan lingkunganku. Iyo omonganku gak alus, la wong aku tidak diberi contoh langsung berkata-kata halus. Sampai akhirnya aku mulai berfikir. Jika aku masih anak-anak, bolehlah aku menyalahkan orangtuaku, tapi kini aku sudah dewasa, kemampuanku ataupun apapun yang aku bisa tidak lagi tergantung pada oranglain, namun tergantung pada diriku sendiri.
Kagok Ngobrol dengan Mantan Bakal Calon Mertua
Titik balik dimana muncul tekat kuat untuk belajar lebih dalam bagaiamana berkomunikasi dengan bahasa jawa krama dasar muncul saat dulu aku main ke rumah teman perempuanku. Bertemulah aku dengan bapaknya. Sebagai anak usia SMA harusnya aku sudah lancar berkomunikasi tapi nyatanya tidak sama sekali. Pertama karena grogi jelas, kedua aku bingung harus menjawab bagaimana, bisa-bisanya beliau menggunakan bahasa kromo padaku, dan lidahku kikuk harus menjawab bagaimana, akhirnya bahasa indonesialah yang keluar. Ada lagi, beberapa kata yang tidak kupahami artinya terlontar dari bapaknya, aku tak bisa menangkap apa yang dimaksud rasanya ha he ho sendiri dalam pikiran. Selepas pulang dari rumah temanku tadi. Munculah niat untuk “AKU KUDU ISO BOSO JOWO, isin aku nek moro rene meneh mung iso meneng karo mesam mesem thog”
Mau ndak mau belajarlah aku, mendengarkan dengan seksama saat ada pak yai sedang ceramah, bagaimana urutannya, apa istilah yang sering diucapkan, apa saja kata-kata yang tidak katahu artinya. Cari aku di google dan youtube kata-kata umum apa saja dalam bahasa jawa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Wah sepertinya rasanya modalku sudah mulai cukup, aku coba komunikasi dengan guruku juga sudah mumpuni. Esuk aku tak akan lagi malu ataupun grogi dengan bapak temanku, aku akan bisa ngimbangi dan yakin jika komunikasiku bagus, akan terbuka lebar peluang pintu aku diterima jadi calon menantunya.
Jauh panggang dari api, niat tinggalah niat, Alih-alih mendapatkan kesempatan momentum untuk kembali sowan dengan orangtuanya, justru hubungan kami kandas di tengah jalan. Anaknya tak kudapat minimal paksaan diriku untuk belajar bahasa jawa kudapat. Aku menyebut Bapaknya kini sebagai “Mantan Bakal Calon Mertua” hahaha.
Manfaat Bahasa Jawa di Tempat PPL dan KKN
Aku PPL di MAN Suruh Kab Semarang. Aku dan temanku-temanku Kos di rumah warga. Ya daerahnya termasuk desa. Warganya baik, ramah, dan suka menyapa. Sebagai yang ditugasi sebagai koordinator teman-teman tentunya aku sering jadi juru bicara jika bertemu dengan pimpinan Madrasah ataupun Warga. Nah skill bahasa jawaku ternyata bermanfaat sekali. Orang-orang ternyata lebih merasa tertarik dan merasa dihormati jika aku menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa obrolan. Dan yup sampai sekarang kesan baik itu masih bertahan sampai sekarang.
Bergeser sekitar 20 KM dari tempat PPL, aku KKN di Kec. Ngablak Magelang. Kaki gunung merbabu tepatnya. Masih sama aku dipercaya jadi kormades, koordinator mahasiswa di desa. Karena ini daerha gunung dan desa, bahasa jawa jadi bahasa yang lebih sering lagi dipakai. Tapi tenang aku sudah sangat percaya diri, bagaimana menjalin komunikasi dengan perangkat desa, dengan anak-anak, dengan pemuda, bahkan saat kedatangan dan perpisahan yang mendatangkan banyak warga desa dapat lancar semua tentunya dengan menggunakan bahasa jawa.
Komunikasi di Tempat Kerja dan Lingkungan
Selepas lulus kuliah, aku bekerja sebagai guru di sekolahku dulu. Bertemu dengan guru-guruku kembali tentunya hormat adalah suatu hal yang wajib kuberikan kepada guru-guruku yang kini menjadi partner kerjaku. Di sekolah ini pastinya aku menggunakan pengantar bahasa jawa saat ngobrol dengan bapak ibu guru. Semakin hari semakin lancar tidak ada lagi hambatan berarti.
Untuk kegiatan di lingkungan aku dipercaya jadi pembawa acara tiap kegiatan pengajian selapanan, MC tompo besan dalam pernikahan, sampai diminta ngisi kajian subuh yang karena auidiennya mbah-mbah wajib hukumnya menggunakan bahasa jawa. Kalo ada waktu senggang dan mau denger boleh klik disini. Semua kucoba untuk meningkatkan kemampuan berbahasa jawaku.
Sampailah kemarin saat SMP Mengundang orangtua murid untuk menerima hasil PTS dan sosialisasi Program Sekolah, aku menantang diriku sendiri untuk mempresentasikan program sekolah. Ada dua pilihan bahasa pengantar, bahasa indonesia dan bahasa jawa. Jika melihat siapa yang datang tentunya bahasa jawa akan lebih cocok. Kusiapkan presentasi yang to the point dan dilengkapi visual kegiatan anak-anak. Dari segi materi menurutku sudah siap, apalagi yang kusiapkan ? Kusiapkan juga gimmick dan jokes yang mungkin bisa menjadikan obrolan jadi ger. Dapat darimana ? kucarilah teknik komunikasi tersebut dari ceramah mbah yai anwar zahid. Materi ok, teknis ok, and yeah this is the time.

Aku perkirakan waktu yang kubutuhkan sekitar 30 menit. Salam kubuka, alhamdulillah salam ini mendapat jawaban dengan nada yang semangat. Kumulai basa-basi sebentar. Kulempar satu gimmick, yes pancinganku dapat mangsa, Gimmick kedua, ketiga, dan seterusnya hampir-hampir bisa kena semua. Kusapu pandanganku kiri, kanan, depan belakang, hatiku merekah tersenyum, alhamdulillah semua mata bisa tertuju kedepan menerima penjelasanku. Penjelasan program yang normalnya menggunakan bahasa yang tidak umum rasa-rasanya dilihat dari gesture tubuh, mereka dapat menerima dengan baik apa yang kusampaikan. Dar der dor saking aku menikmatinya ternyata sudah jalan 40 menit. Sesi 1 selesai, ganti sesi 2, dan diakhiri sesi 3. Suaraku habis, keringatku merembes, dan energiku terkuras, tapi yakin, aku sangat puas atas presentasiku hari ini, aku sangat puas tentang progresku sampai hari ini. Dulu aku yang ditanya “Ting mriko wau dalu jawah mboten mas?” tidak tahu dan tidak paham, kini aku bisa berkomunikasi aktif dengan orangtua murid-muridku. Pol Bungah atiku.

Puncak Keberanian
“Bapak Ibu Ngapunten sakderengipun, ganggu wekdal istirahatipun panjenengan. Dinten niki kulo sowan wonten griyonipun panjenengan sepindah gadahi niat silaturahmi, kaping kalihipun kala wingi kulo sampun matur kalih ibu kulo, nyuwun pangestu bilih kulo ajeng nembung putrinipun panjenengan. Kiranglangkung kulo sampun tepang kaling mbak Hawa awit PPL tahun 2018 riyin. Sepalih tahun niki kulo ngraoske cocok kalih putrinipun panjenengan. Menawi ningali umur nggih sampun wekdalipun gadahi gegayuhan damel bebale griyan. Kulo gadahi niat nyuwun izin pangestu panjenengan, bilih Mbak Hawa ajeng kulo suwun dados garwo kulo”
