Siang itu 25 pasang mata menata posisi duduknya sekhusyuk mungkin, namun kecuali satu anak, raganya tengah ditinggalkan fikiranya yang terbang melayang. Seketika itu ada telunjuk dilanjutkan dengan brondongan pertanyaan mengarah kepadanya, sontak anak itu terkaget-kaget, tanpa diperintahkan tangan kananya mulai menggaruk kepalanya, mungkin tanda dia berfikir namun mungkin juga sebagai isyarat bahwa dia mencoba pura-pura berfikir.
“Kosmetik Pak”
Sekejap suasana menjadi hening, sepersekian detik kemudian diantara 25 pasang mata tadi tak ada satupun yang dapat menahan gelak tawanya, karena teman, sambil berfikir mengapa teman mereka menertawakanya diapun ikut-ikutan tertawa.
“Haduh jon jon pertanyaan seperti itu saja g bisa, udah g bisa tpi kog ya mlencengnya jauh banget lo”
Timpal menimpal tak henti-hentinya bersahut-sahutan.
“Duh masak karbit digunakan sebagai kosmetik tho jon-jon”.
Tertawa mereka kali ini rupaya cukup bertahan lama, bahkan hingga ada yang ingin terkencing-kencing menahan gelak tawanya.
“Sudah tertawanya ?”
Dua kata itu bersandar dengan tanda tanya yang diiringi dengan senyuman.
“Tidakah kalian tahu siapa penemu lampu bolam, bukankah kalian juga tahu penemu pesawat terbang, telepon, dan lainya, apaka kalian lupa tokoh-tokoh yang mendapatkan penghargaan Nobel atas temuan-temuan mereka ?
“Coba lihat apa yang mereka dapatkan ketika mengungkapkan ide-ide mereka, mereka dianggap gila tidak waras stress dan ditertawakan oleh banyak orang, namun lihat temuannya kini dimanfaatkan oleh banyak orang, pun dengan jawaban teman kalian tadi“
“Boleh jadi kalian menertawakanya sekarang karena tidak ada nyambung-nyambungnya, tapi apakah kita tahu apa yang esok akan terjadi, bisa jadi temanmu ini sekaran kalian tertawakan namun esok hari akan dibangga-banggakan orang, karena idenya sekarang yang kalian anggap gila namun dimasa depan justru bermanfaat bagi orang”
Biarlah banyak yang bilang pendidikan kita kalah dengan pendidikan negeri tetangga yang berimbas pada “morat-maritnya” negeri kita, kami tak mau mencela terlebih menghina, karena kami mencoba memahami kerusakan ini tak lain dan tak bukan merupakan buah tangan dari apa yang kita lakukan bersama. Rasanya tak ada yang perlu diganti, karena tugas kita ialah berhenti mencaci dan mulai memperbaiki.

