Surga yang Tak Dirindukan 1, 2 dan Cinta Laki-laki Biasa merupakan dua film yang mengadopsi novel besutan Asma Nadia. Dua film ini mengambil tema besar yaitu kehidupan suatu keluarga dengan berbagai permasalahanya.
Baik surga yang tak dirindukan maupun cinta laki-laki biasa, keduanya sama-sama mampu menggiring penikmatnya untuk masuk dan merasakan apa yang dialami oleh pelaku dalam film tersebut.
Konflik dimulai ketika niatan Prasetya untuk menyelamatkan dua nyawa harus dihadapkan dengan keputusan bahwa dia harus menikahi seorang Meyrose. Dilain sisi, istana bintang yang telah dibangun Prasetya bersama Arini hampir sempurna baik bangunan maupun isinya.
Bukan maksud Pras tidak ingin memberi tahu kepada Arini, namun sepeninggal ayahanda Arini yang terakhir diketahui bahwa beliau telah menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuanya menjadikan Pras mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kepada Arini.
Dengan terus-terusan menyembunyikan ihwal pernikahanya dengan Meyrose akhirnya tanpa diberitahu siapapun Arini mengetahui kenyataan pahit tersebut. Awalnya Arini sangat mengecam dan menolak apa yang dilakukann Pras sekalipun atas dasar kemanusiaan.
Latar belakang keluarga Nania yang hidup dalam gelimang harta ditambah ketiga kakaknya yang dipersunting politikus, psikolog, dan pengusaha tak menjadikan Nania tinggi hati. Ditunjukan dengan totalitas prinsipnya sebagai sarjana arsitektuk yang memiliki impian dapat merancang perumahan rakyat layak huni bagi kalangan menengah bawah.
Totalitas itu jugalah yang mengantarkan Nania berjumpa dengan mandor bangunan yang memiliki identitas antik yaitu Ramli. Hampir serupa dengan yang dialami Arini dan Pras, dalam perjalanan cinta Nania dan Ramli hadirlah orang ketiga yaitu seorang dokter ahli bedah yang oleh Ibu Nania diapanggil dengan nama Toi.
Sengaja dalam tulisan ini tak dijelaskan secara utuh sinopsis keduaa film ini.
Pertama supaya bagi yang telah melihat film tersebut tak terkesan bosan karena memang telah mengetahui jaan ceritanya.
Kedua, bagi yang belum menyaksikan tidak kehilangan rasa penasaranya untuk menyelami setiap detik gerakan frame pada film ini. Film ini cocok dinikmati tidak hanya bagi kaum hawa melainkan juga kaum adam. Selain romantisme yang membuat kita “baper” akan ada scene yang mampu mebuat air mata kita tak dapat dibendung lagi (Saya juga).
Terdapat beberapa kesamaan dalam kedua film ini, namun kesempatan ini saya pergunakan untuk membahas mengenai perbedaan antara keduanya.
Perbedaan mencolok tersebut terletak pada akhir cerita kisah cinta Arini-Pras dan Nania-Ramli. Perbedaan tersebut terlihat dalam scene yang disajikan dalam Gambar 1.
Dari kedua gambar tersebut sekilas dapat ditebak bahwa Surga yang Tak Dirindukan berakhir sedih dan Cinta Laki-laki Biasa berakhir bahagia. Inilah hal yang hingga kini melekat pada penikmat kedua film ini sedih dan bahagia. Segala hiruk pikuk konflik yang tersaji diawal seakan hilang ditutupi oleh kisah penutup akhir pada masing-masing film.
Belajar dari kedua film diatas rasa-rasanya memang benar bahwa penentu segala sesuatu diukur dari bagaimana hal tersebut diakhiri. Baik dimulai dengan hal yang baik maupun buruk akan tetap yang dijadikan tolok ukur ialah hasil akhir.
Seperti halnya kehidupan manusia rasanya yang datang adalah kesia-siaan ketika kita melukis dengan begitu indahnya suatu lukisan namun diakhir kita tak sengaja menumpahkan cat keatasnya. Pun dalam perkuliahan serajin apapun kita berangkat kuliah namun kita lupa tidak validasi mulang tetap kehadiran kita tidak tercatat dalam sistem.
Lebih jauh lagi masalah hubungan, hendak selama apapun hubungan itu dijalani ketika tidak diakhiri dengan hal baik maka akan terjadi kembali tragedi Hari Patah Hati Nasional kedua.
Dalam hal ini Didi Kempot melalui satu ungkapan yang disajikan dalam lagunya mendendangkan
“Klopo sing tak tandur limang tahun sing kepungkur uwis tukul godhonge uwis dadi janur, janur sing semampir ono ing ngarep omahmu nanging sing nyandhing kowe dudu aku, dudu awaku”
“Pohon kelapa yang kutanam lima tahun yang lalu, telah tumbuh dan kini daunya menjadi janur, janurpun telah melengkung didepan rumahmu, namun sayang yang duduk mendampingimu di pelaminan bukanlah aku, bukan diriku”.
Eh maaf paragraf ini lebih baik dihiraukan saja.
Teringat kisah pembunuh 99 orang yang kemudian divonis oleh seorang rahib tidak akan mndapat ampunan justru dapat masuk surga tidak lain dan tidak bukan karena di ujung hidupnya dia memiliki tekad untuk melangkah ke jalan yang lebih baik.
Disisi lain ada pula seorang ahli ibadah yang dihinggapi rasa penasaran yang kemudian ia tergelincir sehingga ibadah yang ia perjuangkan sebelumnya diakhiri dengan hal buruk.
Maka dari beberapa cerita diatas, tanpa adanya maksud untuk tidak menganggap proses, hasil akhir dirasa masih merupakan penentu baik atau tidaknya suatu hal.
Diujung bulan Ramadhan ini pastinya kita perlu terus berkaca. Bagaimana kita memulainya, menjalani setiap harinya, hingga sebentar lagi kita akan ditinggalkanya.
Kemarin ialah masa lalu sekarang ialah tolok ukur apa yang akan kita lakukan di masa mendatang. Mari kita maksimalkan ssa kesempatan yang masih dipercayakan kepada kita.
Kita memang tidak tahu akhir kita akan seperti apa, namun akhir akan lebih bergantung kepada kebiasaan dan kehati-hatian pada setiap hal yang kita lakukan sekarang.
Terus berbuat baik diiringi doa semoga Magfiroh, Rahmat serta keistiqomahan senantiasa dilimpahkan oleh-Nya kepada kita semua.
