
“Sepekan kebelakang saya terus-terusan dihantui beban fikiran, muncul banyak sekali pertanyaan, seharusnya perempuan seperti saya tidak berada di sini, gelar dokter sama sekali tak penting dan tak akan mengubah jalan hidup saya, apalagi jika sudah lulus, alih-alih membantu orang lain, bisa saja saya justru melalaikan kewajiban terhadap keluarga saya kelak, mengabaikan suami sekaligus anak-anak saya, untuk apa saya bisa menjadi perantara sembuhnya orang namun tak bisa berada di sisi keluarga setiap saat, pun dalam ajaran agama yang saya pahami, tugas utama perempuan ialah berada di tengah-tengah keluarga, dan tak menghendaki perempuan berkarir pada bidang yang sebenarnya umumnya digeluti laki-laki ”
“Baiklah saya akan memberikan surat rekomendasi pengunduran diri kepada saudara, namun sebelumnya silahkan terlebih dahulu saudara jawab pertanyaan saya denga jujur”
“Tak ada niatan sama sekali bermaksud mengangkat isu SARA, perbincangan ini terkhusus saudara dengan saya saja karena memiliki kepercayaan yang sama, jika suatu saat saudara hendak melahirkan, kondisi anda dan bayi yang ada dalam kandungan kritis dan harus segera ditangani, sesampainya di rumah sakit ada empat dokter yang bisa menangani saudara, ada dokter perempuan muslim, laki-laki muslim, perempuan nonmuslim, dan laki-laki nonmuslim, dokter mana yang akan anda pilih ?”
Cepat-cepat mahasiswi itu menjawab
“Tentu saya memilh, dokter perempuan muslim”
Mendengan jawaban tersebut ketua jurusan kemudian mengambil selembar kertas dan menandatanganinya.
“Tepat sekali”
“Tapi sayangnya anda tidak akan bisa dilayani dokter perempuan muslim jika semua perempuan muslim memiliki fikiran pendek seperti saudara”
“Ini surat rekomendasi pengunduran diri sudah saya tanda-tangani, saya berikan ke anda, keputusan sepenuhnya saya serahkan kepada saudara, mau tetap anda gunakan ataupun tidak, fikirkan matang-matang”
Sepenggal kisah ini pernah kutemukan di linimasa facebook beberapa tahun lalu. Barangkali mungkin ini kenyataan yang kemudian mengantarkan kemunduran sejarah peradaban islam dunia. Sekulerisme memisahkan ajaran agama dengan ilmu pengetahuan menjadi pandangan yang tumbuh subur saat itu.
Masyarakat menganggap ilmu pengetahuan bukanlah suatu keawajiban yang harus dikuasai seorang muslim karena ilmu pengetahuan merupakan suatu ang terpisah dari agama. Agama diajarkan sebagai suatu dogma yang harus diterima masyarakat, dan ilmu pengetahuan merupakan produk barat yang tabu untuk dipelajari.
Kenyataan yang berkebalikan sebenarnya terjadi pada abad-abad sebelumnya. Ilmuan muslim banyak yang masyhur namanya, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Jabir Ibn-Khayyan, dan beberapa tokoh lain justru jadi parameter perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Tidak sedikit orang barat yang belajar ke tokoh-tokoh ini. Benar saja, waktu telah berganti, keadaan juga telah berbeda.
Akselerasi loncataan berbagai kemajuan justru kini berpusat dikuasai barat. Masyakat muslim kini yang justru berusaha sekeras tenaga mengejar ketertinggalan. Lebih parah lagi banyak masyarakat yang merasa tidak ada yang salah dan hanyut dalam romantisme kehebatan tokoh-tokoh terdahulu tanpa berusaha untuk mewujudkanya kembali.
Merasa terpanggil untuk mengurai permasalahan tersebut dan menarik impilkasinya terhadap kondisi saat ini, munculah gagasan mengangkat figur tokoh guru bangsa yang dikenal di seantero nusantara sebagai figur panutan utamanya mengenai pandangan beliau terhadap dunia pendidikan.
Kenyataan inilah yang diutarakan Mukani dalam pembukaan bukunya yang berjudul “Belajar ke Sang Kiai”.
Ketokohan Kyai Hasyim Asyari rasanya tak pernah dan tak akan lekang oleh waktu. Siapa yang tak mengenal beliau.
Riwayat hidup beliau ditulis secara global di bagian kedua dari buku ini. Bagi yang sebelumnya pernah menyimak perjalanan hidup beliau, bab ini bisa anda lewati, tapi saya sarankan lebih lebar demi lembar bab kedua ini anda tuntaskan.
Mengapa ?
bisa saja anda menebak isi kisah masyhur beliau, sebut saja saat KH Hasyim berpindah-pindah pondok karena kecerdasan beliau, kisah mencarikan cicin KH Kholil yang terjatuh ke jamban, kenyataan haru ditinggal pasangan hidup saat di mekah, ta’dzimnya beliau yang secara sembunyi-sembunyi mencucikan baju guru beliau KH Kholis saat sang guru datang nyantri ke Mbah Hasyim, dan saat dimana pertanda yang dibawa KH. As’ad berupa tongkat dan tasbih KH Kholil sebagai persetujuan untuk mendirikan NU. Namun selain berisi perjuangan hidup, dipaparkan juga berbagai tulisan yang membahas mengenai beliau, baik sebagai negarwan, pemimpin umat, pahlawan nasional, dan panutan dalam dunia pendidikan.
Bagian selanjutnya dari buku setebal 200,an halaman ini ialah mengenai pandangan beliau terhadap dunia pendidikan. Penulis banyak menggali perspektif pandangan Mbah Hasyim lewat karya Beliau yaitu Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim.
Seperti nama kitabnya, Adabul ‘Alim Wal Muta’alim, adab orang yang berilmu (guru) dan adab orang yang mencari ilmu (murid/santri). Bukan saja mebahas mengenai bagaimana cara menjadi murid yang baik namun juga membahas bagaimana cara menempatkan diri sebagai guru sesuai tuntunan Rosulullah, bukan hanya itu peran orang tua dan masyarakat ikut dikupas dalam menyelesaikan maslah pendidikan.
Terakhir Penulis yang juga merupakan dosen salah satu kampus keagamaan di jawa timur ini berusaha menari garis yang menyambungkan pemikiran KH Hasyim Asyari dengan fakta pendidikan saat ini. Bahwa diakui memang masalah dunia pendidikan khususnya pendidikan di indonesia zaman dahulu masih banyak yang belum terselesaikan hingga sekarang.
Gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh KH masih sangat relevan dan mampu menjawab permasalahan tersebut namun sayangnya masih belum ada i’tikad kuat untuk melaksanakan anjuran KH Hasyim sehingga permasalahan yang ada tidak kunjung usai.
Ada sedikit catatan pribagi bagi saya saat membaca buku ini. Jujur buku ini agak berat bagi saya.
Pertama karya ini merupakan bungkus lain namun dengan isi yang sama dengan disertasi penulis sehingga bahasa akademik yang kaku masih sangat kental sekali.
Kedua, saya yang sama sekali tidak ada latar belakang mengenai penelitian sosial humaniora kebingungan mengenai konstruksi yang ingin dibangun penulis, sangat berbeda sekali dengan penelitian eksak yang pernah saya coba lakukan. Ya kedua alasan ini murni subjektif saya dan karena keterbatasan kemapuan saya dalam memahami bidang sosisal humaniora.
Lebih jauh buku ini memberikan perspektif baru yang merekonstruksi pemikiran kita mengenai berbagai permaslahan pendidikan kita sekaligus mencoba mengurai bebrapa solusi yang didasarkan atas pemikiran Sang Kiai Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari.

Siluet kayu berlukiskan figur KH Asyari ialah salah satu produk dari Tugas Akhir Andry Tasirun (Konco Nemu pas Ziarah Kadilangu-Kudus). Kalo Bukunya boleh minjam Mas Muslih.

