Bersahabat dengan Perubahan

Bersahabat dengan Perubahan

Ternyata benar, karma itu memang ada. Yang biasanya aku yang habis-habisan membully adik tingkat termuda dikosku, kemarin giliran dia tertawa lepas meremehkanku.


“Hahaha dasar lemah, awake thog sing gedhe, numpak bis wae mabuk”


Kalimat itu keluar saat aku kembali lagi ke kos, padahal baru sejam yang lalu aku berpamitan untuk pulang Blora tapi tiba-tiba sudah muncul lagi dengan wajah pucat.


Ya mau gimana lagi, niat hati memang ingin pulang Blora menggunakan bus, karena ada suatu keperluan. Untung tak bisa didapat, justru malu yang tak bisa ditolak. Awalnya aku pede-pede saja toh selama ini tak pernah terjadi-apa. Saat BRT sampai jembatan sampangan perasaanku mulai berubah.


“Ini AC udah dingin, kog ya masih keringetan, kepala juga udah mulai kliyengan” batinku.


Merasa ada isyarat dari tubuhku yg tidak enak, aku mencoba mensugesti.


“Wis ora Popo, kuat-kuat”


Namun apa daya, daripada keluar di dalam BRT lebih baik aku memutuskan turun saja. Shelter BRT Kagok yang jadi pilihan.


Tak berselang lama pusing semakin memuncak, dan mual tak bisa ditahan.
ZOOOOOR sarapanku pagi itu keluar semua.


Sengaja kuposisikan diriku memunggungi shelter agar tidak ada yang tau. Tapi sepertinya percuma, beberapa orang terlihat memandangiku, ah Cuek. Aku sok biasa-biasa saja agar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Memang kelihatannya sepele masalah mabuk perjalanan, tapi bagi kami barisan orang-orang yang trauma dengan mobil, mabuk perjalanan itu suatu hal yang sangat menyiksa.


“La terus mau munggah unnes,e py ?”
“Nggo gojek”
“Loh bukane Ng Kono ono pangkalan ojek ya?”
“Iya sih, tapi mboh kenopo luwih gampang dan yakin nggo gojek timbang ojek biasa Ik”

Sebenarnya ada alasan pribadi kenapa tidak memilih konvensional, bukan bermaksud menjelekan atau bagaimana karena pernah suatu ketika menggunakan jasa ojek konvensional kemudian “dikenthel” dengan harga yang tidak sewajarnya. Tapi aku yakin waktu itu hanya oknum, diluar sana masih banyak tukang ojek yang baik serta jujur.


“Terus sokmben nasibe ojek biasa py ya Mas ? Saiki wae ws kalah saing”


Ya mau tidak mau perubahan pasti akan terjadi, jika pola pikir orang tak ikut berubah tinggal tunggu waktu saja. Apalagi sekarang masanya ialah masa dimana orang mencari hal yang mudah praktis dan murah, kalau ketiga hal itu tidak terpenuhi, siap-siap saja untuk ditinggalkan.


Kalau kita ingat-ingat pelajaran sejarah SMA dulu pasti taulah bagaimana cara manusia zaman dahulu untuk survive bertahan hidup.


Diawali dengan periode berburu, maka siapa yang memiliki keahlian berburu dia akan bisa hidup. Berjalanya waktu, saat stok buruan semakin menipis, terdapat kelompok yang membuat pembaharuan.


Kalau kebiasaan berburu ini berjalan terus menerus maka akan tiba saat dimana buruan akan habis dan tak ada lagi yang bisa dimakan. Munculah kemudian budaya pertanian.


Awalnya kelompok berburu menertawakan kelompok pertanian

“Hahaha apa itu, orang yang hebat itu orang yang bisa berburu, kau tak akan bisa hidup dengan cara baru yang aneh itu”

dan akhirnya bisa ditebak, saat buruan benar-benar sudah habis maka diikuti pula kelompok menjadi tiada.


“Teneneneng teneneneng Teng” (Nada Nokia tunes) pada akhir tahun 1990 hingga awal tahun 2000 menjadi mayoritas isyarat orang yang mendapatkan telepon dari seseorang.Ponsel produksi Finlandia ini menjadi raja dari alat perteleponan dunia.


Tapi apa mau dikata, jumawa merasa tak akan terkalahkan oleh perusahaan lainya menjadikan Nokia tak merespon perubahan zaman. Munculah Apple dengan IOS,nya, BB dengan BBMnya, Samsung dengan androinya. Dan jadilah Nokia sekarang yang tersisa hanya kisah tentang kejayaan.


Di era disrupsi ini mau tidak mau perubahan di segala aspek harus dilakukan demi terjawabnya tuntutan zaman. Termasuk sektor terpenting yaitu pendidikan. Berbeda dengan luaran luaran dari bidang lainya yang hasilnya dapat dilihat dalam hitungan tahun, output dari proses pendidikan baru bisa dirasakan minimal setelah 20 tahun. Inilah salah satu alasan yang menjadikan loncatan dalam dunia pendidikan sedikit dilakukan, karena dirasa inovasi-inovasi di dunia pendidikan tak langsung bisa dinikmati.


Salah satu contoh inovasi dalam dunia pendidikan ialah penerapan metode blended learning. Ada sedikit contoh sependek pengalaman yang pernah kujalani saat melaksanakan penelitian skripsi. Alat bantu yang kugunakan dalam proses pembelajaran ialah aplikasi Google Classroom.


Setelah mencari referensi dari berbagai artikel ternyata di luar negeri telah digunakan sejak tahun 2014 namun aku baru tau dan menggunakannya tahun 2019. Ada inovasi yang terlambat ku ketahui 5 tahun.

Pun saat memanfaatkan aplikasi tersebut, diri saya sendiri mengalami kerepotan saat masuk dalam tahap persiapan. Banyak hal yang harus disiapkan sebelum memulai pembelajaran. Dan ini yang membuat sedikit berpikir ulang untuk tidak menggunakan yang begini-beginian, ribet.

Belum lagi saat digunakan siswa, karena baru pertama kali banyak siswa yang kebingungan bagaimana cara menggunakannya.

“Pak ini gimana caranya” “Pak, pak, pak, dan pak pak” sampe mumet meladeninya.


Tapi apapun itu, mau seribet, serewel, dan sesese yang lainnya. Aplikasi-aplikasi ini harus segera diperkenalkan dengan mereka, pemaksaan diawal harus mau tidak mau diberikan. Dan terbukti sekali dua kali tiga kali mencoba disertai dengan segala keluh kesahnya, anak-anak kemudian mulai terbiasa.


Pemanfaatan aplikasi seperti ini memang nampak sulit saat dalam tahap persiapan, namun akan begitu memudahkan kita saat tahap evaluasi pencapaian peserta didik. Jangan kemudian menuntut peserta didik untuk membuat inovasi namun gurunya tidak mau berubah, sekalipun sulit hal tersebut harus mau dilakukan.
Aku merasa kagum saat aku yang statusnya mahasiswa belum selesai skripsinya hiks, dimintai tolong salah satu guru besar di jurusanku untuk mengajari penggunaan E-learning yang ada di kampus. U

sia yang sudah tidak lagi muda menjadikan agak sedikit kaku dalam hal teknologi. Namun tidak dengan beliau, semangatnya untuk terus belajar sungguh sangat luar biasa, bahkan beliau yang sudah Profesor tidak sungkan-sungkan meminta bantuan denganku. Ini titik dimana aku merasa ditampar, beliau yang sudah Profesor saja semangat belajarnya masih tinggi, sedang aku, muda, sehat, waktu yang semuanya masih sangat memungkinkan belajar saja masih males-malesan.


Aku tidak boleh kalah dengan perubahan, aku harus merubah perubahan. Tapi jujur sampai sekarang aku masih takut membuat perubahan. Aku trauma dikemudian hari ada perempuan yang bilang padaku.


“Sepurane mas kayane awak dewe wis g iso bareng meneh, awakmu wis dudu sing biyen, saiki awakmu wis berubah”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *