Hari ini Beranda Instagramku dipenuhi video peternak sapi Boyolali yang melakukan aksi mandi susu sapi. Tidak hanya digunakan mandi, susu sapi yang tidak diserap oleh Industri Pengolahan Susu (IPS) banyak dibuang ke sawah maupun ke TPA. Bukan tanpa alasan peternak melakukan hal tersebut sebagai wujud protes terhadap kebijakan pembatasan penyerapan susu oleh IPS.
Fenomena di atas sebelas dua belas dengan yang dialami oleh petani di banyak daerah. Sering kita jumpai video petani membuang hasil panen karena harga yang jual yang sangat rendah.
“Kenapa harus dibuang sih, bukankah akan lebih baik jika disedekahkan atau dibagikan saja, atau dijual dengan harga yang saat itu berlaku ? Daripada mubazir dibuang-buang”
Ya, kurang lebih begitulah pendapat yang mengisi kolom komentar video-video protes tersebut.
Pertama, kenapa tidak dibagikan atau disedekahkan saja ? Percayalah kalau kita datangi petani tersebut, kita akan ditawari untuk membawa hasil panen mereka sebisa yang kita bawa tanpa perlu membayar sepeserpun. Jadi kalau ada anggapan hasil panen tidak dibagikan jelas salah. Silahkan cek saja tumpukan hasil panen itu adalah sisa dari hasil yang sebelumnya sudah dibagi-bagi ke banyak orang.
Kedua, kenapa tidak dijual dengan harga yang ada saja ?
Begini, memilih profesi sebagai petani saat ini itu ibarat memainkan pertaruhan. Bagaimana tidak, untung belum ada jaminan, kerugian sudah menunggu di depan mata.
Modal tanam tinggi, akses pupuk yang sulit, harga obat pendukung pertanian semakin naik, ketidakpastian cuaca, harga jual hasil pertanian yang fluktuatif, jadi rentetan rintangan yang harus dihadapi oleh petani.
Bagi pemodal kuat rasanya masih aman jika menghadapi kegagalan panen atau harga rendah, setidaknya masih ada biaya untuk memulai di periode tanam berikutnya. Jamak terjadi, petani dengan modal terbatas di tengah jalan tanaman diserang hama dan tidak bisa diselamatkan. Maka selesai sudah, alih-alih hasil panen akan digunakan untuk modal tanam berikutnya, namun apa daya, modal saja tidak bisa kembali. Itu bagi yang menggunakan modal pribadi, bagaimana jika modal dari hutang bank ? Sudah jatuh tertimpa tangga dan terjerembab ke lubang sedalam-dalamnya.
Bukan hanya saat di tengah jalan petani dibayangi kekhawatiran, bahkan jika hasil produksi panen bagus dan banyak, petani harus siap-siap dengan harga yang tidak masuk di akal.

Tentunya kita yang berada di daerah yang jauh dari pertanian akan tidak percaya karena saat membeli sayur di warung harganya masih bisa dikatakan lumayan tinggi. Tapi itulah kenyataanya di tingkat petani jangankan meraih kesejahteraan, ternyata untuk mengembalikan modal saja sudah sangat kesusahan.
Sepeti yang terjadi sekarang ini, silahkan bayangkan satu karung besar kubis hanya dihargai Rp. 50.000, atau senilai Rp. 1.000 perkilo, labu siam (jipang) satu kilo dihargai Rp. 500, tomat tidak sampai Rp. 1000, wotel menyentuh harga Rp. 300 perkilo.

Pekan depan tepatnya hari Rabu, 27 November 2024 gelaran pemilihan umum kembali digelar. Edisi tahun ini, pemilihan ditujukan untuk memilih Gubernur Wakil Gubernur, Walikota, dan Bupati.
Seperti pada edisi-edisi sebelunya, rangkaian janji-janji dilontarkan untuk menggaet suara petani yang memang menjadi profesi mayoritas masyarakat kita. Kalau diingat janji yang disampaikan dari dulu sampai sekarang masih sama, akses modal, akses pupuk, akses pasar, dan jaring pengaman petani semua akan dipermudah untuk menjadikan petani sejahtera.
Tapi yang jadi pertanyaan, sejauh ini adakah janji kampanye yang kemudian benar-benar terealisasi dan menyejahterakan petani ?
Jika sudah, tentunya masyarakat pasti akan berbondong-bondong jadi petani bukan ?
Tapi yang terjadi justru para pemuda banyak yang enggan lagi berprofesi sebagai petani. Kita sudah bisa menjawab pertanyaan itu sendiri tentunya.
Siklusnya kembali berulang, petani kembali hanya dijadikan objek kampanye. Euforia kampanye dengan mengundang petani saat seremonial orasi, calon turun ke sawah ladang, didokumentasikan, diunggah di sosial media dengan caption sangat memperhatikan nasip petani, disebarluaskan kemana-mana seolah telah membantu banyak.
Setelah terpilih apa yang terjadi ? ya kita bisa menebaknya sendiri.
Tanpa ada petani sebagai penopang bidang pangan, bisa dipastikan kita tidak bisa melanjutkan kehidupan. Maka, mari kita terus hidupkan semangat petani dengan memberi dukungan yang kita bisa lakukan.
Wonosobo, 10 November 2024
Selamat Hari Pahlawan untuk Seluruh Petani Indonesia


Miris, semoga ada aksi nyata untuk menyejahterakan petani dan peternak Indonesia.
Aamiin aamiin aamiin