Lamongan-Semarang, Ekonomi 7 12E

Lamongan-Semarang, Ekonomi 7 12E

“Oalah begini tho cara dan rasanya naik kereta api, enak ya, walaupun kelas ekonomi tapi nyaman dan anti macet-macet club”

Begitulah respon setelah untuk pertama kali naik kereta api. Yap seumur-umur harus menunggu sampai umur 20 tahun, atau kuliah semester 7 baru merasakan menggunakan moda transportasi Kereta Api.

Lain dulu lain sekarang, dulu selama 5 tahun hanya naik kereta api 3 kali. Pertama dari Semarang ke Kampus PGSD Tegal, kedua dari Blora ke Semarang untuk Wisuda S1, dan ketiga, Blora-Semarang untuk mengikuti Diklat di BBPMP Jateng.

Jika dulu 5 Tahun Sekali, sekarang justru 3 minggu sekali. Trayek Blora-Weleri pulang pergi. Berangkat jumat siang, dan kembali ahad petang. Yup semenjak menikah memang untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya untuk pulang Wonosobo pilihan terbaik jatuh pada angkutan kereta api.

Semenjak saat itu resmi sudah aku menjadi “SOBAT KAI”. Akun-akun Railfans mulai ku follow untuk mengikuti update segala hal tentang perkeraapian.

Salah satu topik bahasan tentang KAI yang pasti akan dibanjiri komentar adalah fenomena orang lain menempati tempat duduk yang tidak semestinya. Bagaimana bisa orang-orang dengan seenaknya menempati tempat duduk yang sudah kita booking dari jauh-jauh hari agar bisa sesuai dengan yang kita inginkan ?

Kukira fenomena ini akan terjadi di kehidupan orang lain saja, ternyata akupun akhirnya merasakannya. Saat naik dari stasiun cepu, aku ingat-ingat gerbong dan kursi yang kupesan. Dari lorong kereta kulihat-lihat oh itu kursiku, saat tau ada yang menduduki, kucek kembali Boarding Pass, ku iya benar kog ini kursiku. Aku sengaja memesan kursi dekat jendela selain untuk melihat pemandangan luar, juga agar bisa mendapat sandaran lebih luas.

“Permisi mas, kursi 18E saya geh ?”

Mas-mas tersebut menoleh, kuulangi lagi ucapanku

“Nuwun Sewu Mas, 18E kursi saya”

Bukannya bergeser tempat duduk, justru mas-mas tersebut berpura-pura tidak mendengar dan kembali tidur. Tentu ada perasaan jengkel, namun yasudahlah daripada rame-rame, sekedar untuk urusan kursi, mengalah tidak ada salahnya. Sepanjang perjalanan aku berbicara dengan diri sendiri, besuk-besuk jika ada orang yang menduduki kursimu, mintalah, kau tidak merebut tapi meminta, itu hakmu, merebut itu jika kau mau mengambil punya orang lain, nah itu kursimu, bearti kau punya hak penuh untuk menempatinya.

Empat bulan berjalan, tiap kali naik kereta api ternyata tempat duduku tidak pernah diduduki orang lagi. Aku kemudian berfikir oalah memang saat itu aku sedang bertemu orang yang egois dan tidak tahu aturan saja, masih lebih banyak orang yang paham hak kewajiban dibanding orang yang tidak memahaminya.

Jumat 8 November 2024, jadi kali kedua kursiku diduduki orang lain, nah kali ini Ibu-ibu paruh baya. Sebagaimana janjiku pada diri sendiri dulu bahwa jika ada yang mengambil hakku maka aku akan memintanya.

“Nuwun sewu Bu, 12E kursi kulo Geh ?”

“Mpun mas, kulo mriki mawon, jenengan di situ, sami mawon, yang penting saget duduk”

Mendengar jawaban tersebut aku membatin

“Wah nk deleng dari cara menjawabnya, kalau kuladeni akan lama ki, yowislah aku tak ngeleh meneh”

Iya akhirnya aku dengan sedikit gemes harus mengalah lagi, kursiku ditempati orang lain. Dan untuk menghilangkan rasa jengkelku, kuambil TWS, buka Spotify dan kulanjutkan buku yang belum selesai kukhatamkan.

Dari Cepu, Randublatung, Ngrombo, dan Semarang Poncol. Karena Stasiun Poncol termasuk kategori stasiun besar dan tempat banyak naik turunnya penumpang, biasaya waktu kereta berhenti akan lebih lama.

“Mas ngapunten geh, kursinya jenengan saya pake, Matursuwun sanget sudah menolong saya”

Aku kaget dengan ucapan Ibu ini, atas permintaan maafnya aku sudah tiada masalah, tapi ucapan terimakasih karena aku telah menolongnya ? aku sudah menolong dalam hal apa ? dan aku hanya menjawab Enggih. Tapi ada yang aneh, sepanjang perjalan tadi yang kuamati Ibu ini hanya diam, tiba-tiba mengucapkan terimakasih dengan wajah yang khawatir namun juga lega.

“Alhamdulillah, Astagfirullahaladzim, Kog ono ya mas wong koyo ngno, Matursuwun geh mas, Astagfirullah….
Jenengan ngerti Bapak-bapak ngajengen jenengan wau mas, Astagfirullah wis tuek tapi kelakuane naudzubillah. Tangane gratil megang-mengan paha, tangan, sama gerak-gerak terus nyikuti badan. Ya Allah, kog iso nglakoni ngno kwi ning tempat umum. Soko lamongan sampe cepu tak empet tak kuat-kuatke mas, terus ting cepu enten kursi kosong terus pindah, mpun mboten kefikiran kursine sinten yang penting aku aman. Asline gondok jengkel mangkel dan merasa ndak dihargai pengen banget jerit, tapi bakale jadi rame, dan nek mpun rame aku ndak ada bukti, takute mangke kulo yang dituduh mengada-ngada menuduh orang lain tanpa bukti, haruse tadi tak rekam tapi saking takut dan paniknya sampe gak kepikiran. Sekali lagi matursuwun geh Mas”

Ibu tadi menjelaskan dengan terengah-engah dan meneteskan air mata. Ternyata itu terjadi yang terjadi. Bayangan ingin marah karena kursiku diambil seketika jadi hilang. Justru perasaan bahagia karena keadaan tadi ternyata menolong orang lain. Bisa jadi kalau aku tetep kekeh meminta kursiku pelecehan tadi akan terus berlanjut.

“Seumur-umur kulo naik kereta nembe tadi kejadian seperti ini mas,, mpun berkali-kali kereta piambak dan aman-aman mawon, delahlah kog ketemu wong bejat. Sing difikirke wong kuwi apa jal, kog iso-isone ning tempat umum gak isin, terus maksute pakaian kulo kan geh tertutup sopan, mboten yang terbuka dan menggoda, kulo mboten habis fikir.

Aku berusaha menenangkan Ibu tadi sebisaku, mecoba mengalihkan pembicaraan agar tidak lagi terfikirkan kejadian buruk tadi. Kucoba gali darimana asal berangkat pergi dan urusannya. Ternyata Ibu ini kembali ke rumah setelah menghadiri acara Pondok Putranya di Gresik. Mengetahui hal itu semakin ngreten hati ini, berangkat ke hal yang baik justru pulanghnya harus dihadapkan dengan hal yang tidak baik.

Obrolan dan perjalan kami sama-sama di akhiri di Stasiun Weleri dan Salam serta doa teriring untuk perjalan Jenengan Selanjutnya Bu.

Fikiranku kemudian melayang-layang. Mengingat-ingat beberapa teman dan saudara yang pernah mendapatkan perlakuan sejenis bahkan tingkatannya lebih parah. Ibu tadi dipegang pahanya itu sudah kurangajar dan menimbulkan trauma yang sangat membekas. Aku yang bukan siapa-siapa saja saat mendengar cerita beliau gigiku ikut gemertak, lantas bagaimana dengan pelecehan yang lebih parah. Maka aku menemukan jawaban saat ada berita tentang bagaimana ada seseorang yang tega membunuh orang yang sudah berani memerkosa anggota keluarganyua, jelas saking marahnya dengan pelaku dan tidak bisa dimaafkan.

Semoga kita semua terhindar dari perilaku menyimpang tersebut.

Pelecehan Seksual

  1. Pelecehan Seksual ternyata bisa terjadi di mana-mana termasuk di Transportasi Umum
  2. Pelecehan Seksual terjadi karena adanya Budaya Patriaki dimana relasi hubungan Laki-laki lebih dominan dan berkuasa dibanding perempuan. Perempuan dipandang sebagai objek yang boleh diapakan saja karena memiliki kerentanan fisik dibandingkan dengan laki-laki. Dan kondisi ini sangat merugikan dan merendahkan perempuan.
  3. Bukan perempuan yang harus dididik agar tidak jadi korban pelecehan. Harusnya Laki-lakilah yang harus banyak dididik agar tidak jadi Pelaku Pelecehan Seksual.
  4. STOP Normalisasi Pelecehan Seksual Sekalipun Itu di tingkatan Paling Rendah, Cat Calling misalnya.
  5. Hormati dan muliakan Perempuan (TITIK).

Mengantisipasi dan Menangani Pelecehan Seksual di Transporati Umum

  1. Catat nomor Kondektur yang tertera di gerbong kereta jika sewaktu-waktu diperlukan. Rekam jika ada orang yang mengarah kepada tindakan pelecahan agar kita memiliki bukti. Kirim bukti tersebut ke kondektur agar pihak KAI mengambil tindakan. Jangan takut jika kita benar.
  2. Jika kita melihat atau menjadi saksi pelecehan seksual, maka mari kita ikut membantu korban dengan memberi kesaksian dan mengambil dokumentasi. Tindakan kecil kita akan sangat membantu korban dan tentunya mari kita tingkatkan empati kita terhadap hal-hal yang berada di sekitar kita.

“Mari didik diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, Murid-murid kita agar tidak menjadi pelaku pelecehan seksual sehingga tidak ada lagi korban yang bermunculan”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *