“Ayo ditelaske disik teh,e”
Mendengar kalimat tersebut awalnya aku tidak merespon apa-apa.
“Nek durung telas gak tak jak mantuk lo”
Nah baru setelah mendengar kalimat kedua ini, buru-buru sisa teh yang ada di gelas depanku ini langsung kuhabiskan tanpa sisa.
Kukira “ancaman” tersebut hanya terlontar sekali waktu saja. Nyatanya tidak, hampir tiap kali aku diajak Pae untuk berkunjung ke rumah orang lain pasti “ancaman” itu tidak pernah terlewat.
Saking seringnya sampailah pada titik di mana aku sudah bisa menebak, jika minuman yang disuguhkan belum kuhabiskan maka pasti muncul kalimat itu. Sejak saat itulah, aku lebih memilih untuk menghabiskan suguhan daripada harus mendengar kalimat yang berulang-ulang.
Waktu terus bergulung-gulung, dulu saat masih kecil kesempatan main ke rumah orang hanya datang saat diajak Pae. Sekarang setelah beranjak dewasa, hampir apa-apa dilakukan sendiri termasuk dalam hal main ke tempat orang lain.
Waktu berganti, umur bertambah, dan kondisi sudah berbeda, namun anehnya setiap ada suguhan dan mau pamitan pulang, otak kecil dan alam bawah sadar menginstruksikan untuk harus menghabiskan suguhan yang sudah disediakan.
Awalnya terasa normal, sampai akhirnya mendadak muncul sebuah pertanyaan ?
“Eh kog bisa seperti ini ya ?”
Yup aku sadar inilah yang dinamakan menanamkan nilai kehidupan, pembiasaan karakter. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, baik itu berupa diskusi, pemberian contoh, maupun konsistensi. Untuk nilai yang satu ini Pae tidak menggunakan metode diskusi, tidak sedikitpun disinggung mengapa aku harus menghabiskan teh,nya sebelum pulang, tidak dijelaskan pula bagaimana perasaan tuan rumah jika teh yang disuguhkan habis, ataupun dijelaskan tentang dalil-dalil tentang menghormati tuan rumah, yang dilakukan hanya memberi contoh dan konsistensi.
Kufikir-fikir, dan langsung kudapati jawabannya. Ternyata perintah yang diulang-ulang oleh Pae itu adalah bagian dari proses penanaman nilai yang dilakukan secara berkelanjutan. Hasilnya pembiasaan tersebut akhirnya tertanam dan terus tumbuh sampai sekarang.
Apakah pemberian contoh dan pengulangan hanya dilakukan sekali dua kali ?
Tentu jawabannya tidak. Ada pengulangan dan proses panjang sampai memori di otak kecil kita melakukan suatu tindakan tanpa perlu diperintah.
Yup itulah karakter. Hanya demi satu karakter saja diperlukan waktu dan kesabaran yang panjang, maka jika hal baik mau kita tularkan banyak tentu kita perlu usaha dan kesabaran lebih luas.
Bagaimana kondisi anak-anak saat ini ?
Salah satu hal yang membuat emosi terbakar saat di sekolah adalah ketika mendengar anak-anak menggunakan kata-kata yang tidak pas. Sebut saja kata “Cuk” “Anjir” “Anjay”.
“Loh itu kan tidak mengumpat dan tidak masuk kategori misuh Pak”
Okey saya tahu secara textual memang tidak mengumpat tapi kita semua tau itu hanya plesetan dari kata Anjing. dan itu sudah masuk kategori kata kasar.
Yang lebih membuat miris, kata-kata tersebut keluar dengan luwesnya, dengan pedenya, dengan kerasnya, dan sekalipun ada guru di dekat siswa, mereka merasa tidak melakukan sesuatu hal yang harus disesali.
Kenapa yang demikian bisa terjadi, balik lagi suatu nilai itu akan bisa menancap jika diulang-ulang berkali-kali, dan sepertinya penggunaan kata-kata itu sudah jadi hal yang lumrah di komunitas anak-anak.
Sebagaimana buah mangga yang busuk, jika kemudian ada mangga lain yang bagus dan menempel di mangga busuk, tinggal tunggu waktu saja kebusukan akan segera menular. Maka agar mangga yang bagus masih bisa diharapkan, mari kita selamatkan.
Bagaimana cara menyelamatkannya ? Bisakah memori kata pisuhan yang sudah bersarang di otak belakang itu dihapus dalam waktu singkat ? Sangat tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah dengan cara menumpuk kata-kata buruk dengan kalimat-kalimat positif yang diberikan dengan pengulangan lebih banyak.
Kalo saya sih saat menjumpai anak yang berkata kotor sekali makan harus ditebus dengan istigfar 100, 150, 200 kali. Dengan niatan agar dengan ini minimal ada memori dzikir yang masuk ke otak belakang anak dan semoga bisa mengikis memori buruk yang sudah ada sebelumnya.
“Yuk jangan normalisasi sesuatu yang buruk, dan mulai apresiasi tiap perilaku baik. Mari berhenti membenarkan segala sesuatu dengan alasan sudah jadi kebiasaan. Yuk mari membiasakan sesuatu yang bersumber dari kebenaran“

