Jumat pekan lalu tepatnya dua hari sebelum Idul Fitri seperti biasanya sebelum khutbah jumat dimulai, selalu ada sesi pengumuman yang disampaikan oleh pengurus masjid.
Terdapat dua pengumuman utama pada jumat itu. Pertama terkait himbauan untuk menghidup-hidupkan malam Idul Fitri dengan mengadakan acara takbir keliling desa. Kedua pengumuman terkait tindak lanjut pembangunan TPQ yang bangunan utamanya telah rampung.
Saya yang pada kesempatan itu duduk di baris ketiga bersama jamaah lainya mencoba mendengarkan pengumuman demi pengumuman dengan seksama. Awalnya saya biasa saja hingga akhirnya saya sendiri “gedhek-gedhek”, bisa-bisanya ya kog sampai seperti itu, hal tersebut bahkan tak pernah terbesit dalam benak saya.

Kami hanya sebatas masyarakat desa, namun demikian karena berasal dari desa kami dapat mendapatkan teladan yang sangat baik dari Ulama serta Umara khususnya dalam hal kejujuran.
Untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang “nitip” sebagian sezekinya untuk pebangunan TPQ, panitia selalu menuliskan saldo yang masuk beserta nama penyumbangnya, kemudian dituliskan dalam papan pengumuman yang ukuranya cukup besar dan dipasang di pelataran masjid. Utamanya karena uang merupakan salah satu hal yang sangat sensitif bagi manusia utamanya manusia seperti kami, maka hal tersebut dilakukan sebagai wujud keterbukaan dan transparansi.
“Halah wong nyumbang atheg ditulis ning pengumuman gedhe, iku mono paling pamer ae, wong yo gur sithik dicemplungno kothak kan yo podo ae, timbang aku nyumbang trus ditulis malah g ikhlas mending g usah nyumbang”
Sekali lagi karena memang karena kami ialah masyarakat desa yang heterogen latar belankang, tingkat pendidikan, tingkat pendapat, tingkat pedapatan, dan heterogen teman ngrumpi bin ngerasaninya maka sangat teramat sangat mungkin sekali fikiran bahkan cuitan seperti itu muncul ke permukaan masyarakat.
Disinilah Ulama memainkan fungsi utamanya, berkhidmat pada umat, hingga kini fikiran seperti itu tak sedikitpun terbesit dalam fikiran warga.
“Menawi mboten ngersak,e ditulis geh mboten nopo-nopo, Gusti Allah sampun Mirsani kog, menawi ingkang ditulis geh mboten nopo-nopo, sami-sami sae sedoyo. Mboten terus menawi ditulis asmane niku pamer mboten, geh mboten riya’ kog, ditulis niku kan geh dalam rangka nyengkuyung panitia, menawi ditulis niku niyate supados saget damel pelecut berlomba-lomba dalam kebaikan”
“Loh wong eko kog iso nyumbang 2 juta yo, kudune aku yo iso luwih soko kuwi no, jebret 4 juta, loh wong kuwi 4 juta, jebret aku 6 juta. Menawi saget,e sekedhik geh mboten nopo-nopo wong gadah,e geh sekedhik sing penting kan ikhlase. Menawi kagem tiyang kang gadhah geh ampun purun kalah, ampun mikir ikhlas rumiyin, mangke malah mboten sios nyumbang, langsung mawon medalaken kathah suwe-suwe kan supe lan otomatis ikhlas piyambak”
Kiai kami seakan mampu menerawang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sekaligus memberikan pilihan jalan keluar yang terbaik. Ini yang membuat saya “gedhek-gedhek”.
Mauidzah Hasanah yang lahir dari beliau-beliau ini rasanya tak muncul begitu saja. Perasaan menyatu dengat umat telah ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkan kepada kami dari yang “tak kenal agama” dengan tanpa memaksa akhirnya kini kami mengupayakan apa yang kami bisa.

Sederhana kelihatanya memang, tapi bagi kami luar biasa. Semoga beliau-beliau senantia dilimpahi sehat walafiyat, umur panjang, keistiqomahan, sehingga kami masih mampu mencicip samudra ilmu beliau.
Kiai Kami Kiai Langgar.

