The Hot is Not Public.
Panase Ora Umum.

Hanya dengan berdiam diri di dalam rumah sudah cukup menjadikan tubuh mengeluarkan keringat dengan gobyosnya. Yap, beberapa hari ini suhu udara memang sedang pada kondisi panas-panasnya. Panas yang seperti ini tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik, namun juga turut serta mempengaruhi kondisi psikis seseorang. Terutama yang sedang berada di luar ruangan pada saat jam-jam kritis.
Kulepas tutup tangki BBM selepas jok motor terbuka. Kuarahkan mataku menuju spion kanan. Wah lumayan panjang juga ya wajah-wajah kucel yang ikut bergabung dalam antrian. Wajar saja, sekarang jam 12 siang, jam istirahat kantor namun sekaligus jam dimana kondisi badan jika diibaratkan dengan baterai HP sedang dalam kondisi “Lowbat” perlu segera diisi ulang kembali. Kukembalikan pandanganku lurus ke depan. Tiba-tiba keningku mengernyit.
“Wah gak beres iki, perlu segera dilakukan tindakan peneguran”
Terucaplah kalimat ini dalam hatiku seraya diikuti semangat membayangkan diri menjadi pahlawan bagi orang-orang yang sedang antri di belakangku.
Eits Sebentar, timbul pertanyaan dibenakku. Perlukah aku menegurnya? Jika memang perlu, kapasitasku sebagai apa?
Kupertimbangkan apa saja hal positif dan negatifnya. Kufikir-fikir apa saja baik-buruknya. Kusanding-sandingkan apa manfaat mudhorotnya. Kepredisiki hal-hal apa saja yang akan terjadi. Apa saat kutegur nanti sekalian sambil kunyalakan kamera? agar jika nanti dia balik menegur, aku punya bukti dan sesuatu yang bisa viralkan? Perlukah aku melakukan sesuatu yang barangkali bisa menjadikan seseorang terlihat tidak baik di depan banyak orang?
Ah rasanya tidak perlu, daripada timbul cekcok dan keributan di tempat umum, lebih baik aku diam dan menunggu. Toh selisih menunggunya hanya lebih sedikit saja.
Eh kog kayane perlu ditegur, ini sudah termasuk dalam hal yang membuat orang-orang tidak nyaman di ruang publik. Ditambah lagi, suatu kebenaran itu harus disampaikan walaupun barangkali pahit untuk didengar. Yap positif, sudah bulat niat dan tekad. Aku harus menegurnya.
“Mbok ndang sat-set tho mbak, motore dituntun mengarep disik, ben sing mburi iso langsunglaaunh maju melu diisi, ora malah santai karo ngitung susuk, kae lo ning buri sing ngenteni iseh okeh”
Harusnya kata-kata itu keluar dari mulutku, tapi ternyata aku kalah cepat. Ibu-ibu dibelakangku sepertinya tidak terlalu banyak pertimbangan seperti yang kulakukan. Tanpa Ba Bi Bu, langsung Das Des.
Ya bagaimana tidak membuat kesal. Ditunggu orang lain tapi santainya kebablasan.
Jika motor lain saat masuk antrian keempat atau ketiga sudah mulai ancang-ancang, ini justru mesin masih dinyalakan sampai dapat giliran diisi.
Bisa ditebak, saat Bapak-bapak SPBU sudah siap mengisi justru mbak-mbaknya baru umyek mematikan mesin, membuka jok yang ribet, baru kemudian melepas tutup tangki.
Request diisi full tank, bukanya mempersiapkan diri mengambil uang, justru menunggu sampai tangkinya full dahulu.
Dan setelah full apa yang terjadi?
Uangnya masih ada di dompet yang dompetnya masih ada di dalam tas.
Kukira uang pas, ternyata pecahan 100 ribu yang dikeluarkan. Wah mesti leren suwe nyusuki iki.
Dan ternyata benar kalau kulirik di nominal yang harus dibayar di mesin pompa kembalinya akan banyak recehnya, bertambahlah waktuku dalam menunggu.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Kembalian yang lumayan tebal dengan santainya dirapikan dahulu di dalam dompet untuk kemudian masih perlu dimasukan lagi ke dalam tas.
Apa hanya sampai di sana ?
Ternyata tidak.
Dinaikilah motor tersebut di tempat dimana seharusnya antrian belakangnya sudah saatnya bisa maju untuk diisi BBM.
Mesin motor dinyalakan, itupun dilakukan dengan penuh rasa santai. Wah pembelajaran tentang kesabaran yang mantap sekali waktu itu.
Sadar bahwa ada yang menegur, dipalingkanlah wajahnya mencari dari mana asal sumber suara. Jujur aku penasaran apakah respon yang akan muncul. Apakah akan terjadi “padu” kecil di siang hari?. Entah kenapa aku berharapnya begitu
Setelah menemukan siapa yang menegurnya. Dengan perasaan tidak enak ternyata mbak-mbak motor scy helm ca*s tersebut langsung menyahut “Oh enggih Ngapunten Geh Bu” Dan langsung tancap gas.
Ah sayang sekali tidak jadi ada konflik di sini. Tebakanku meleset, kukira teguran akan berbalas dengan kengeyelan. Namun demikian menurutku pilihan yang sangat tepat sudah diambilnya, saya yakin mbak-mbak tadi memiliki kesadaran penuh bahwa dirinya bukanlah tandingan yang sepadan bagi ibu-ibu yang menegurnya tadi.
Dari respon yang keluar tadi, aku dapat memperkirakan bahwa mbak-mbak tadi tidak berniat dan tidak tau bahwa yang dilakukannya tadi mengulur-ulur waktu dan menjadikan orang lain menjadi tidak nyaman. Semoga bisa menjadi pelajaran lain waktu ya Mbak.
Yah sekelumit cerita itu barangkali dekat dengan kondisi sehari-hari kita saat mengisi BBM di SPBU. Bisa jadi kita teman-teman sekalian pernah berada posisi saya, ibu-ibu atau bahkan juga Mbak-mbak tadi.
Loh apa mbak-mbaknya salah kog sampai perlu ditegur seperti itu? Yang pentingkan mbaknya tadi bayar dan tidak merugikan SPBU? Toh di sana juga tidak ada aturan yang menyebutkan kalau mengisi BBM harus demikian demikian atu tidak boleh begini dan begitu? Iya kan?
Yup betul sekali, memang tidak ada aturan tertulis namun tidak lantas kemudian kita boleh melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan keinginan kita. Saya faham anda bayar dan memiliki kebebasan untuk mendapat pelayanan, tapi yang perlu diingat kebebasan kita juga dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jika kebebasan yang kita kehendaki justru menabrak kebebasan orang lain, rasa-rasanya sudah tidak tepat jika itu disebut kebebasan lebih cocok disebut kebablasan.
Masih ingat dulu saat kita masih kecil kan?
Kita merasa punya kebebasan untuk mencubit teman kita, tapi kita akan marah saat ada teman yang mencubit kita.
Sebenernya prinsipnya sederhana
“Lakukan apa-apa yang jika orang lain melakukannya kepada kita, akan menjadikan kita merasa bahagia, dan Jangan lakukan apa-apa yang jika orang lain melakukannya kepada kita, akan menjadikan kita merasa tersakiti”
Contoh sederhana ya itu tadi misal kita akan mengisi BBM di SPBU, agar tidak menjadi ganjalan hati bagi orang yang berada di antrian belakang.
Usahakan saat kita masuk antrian ketiga, uang sudah ada digenggaman dan juga alangkah lebih baik jika menggunakan uang pas.
Saat masuk antrian kedua pastikan mesin motor dalam keadaan sudah mati dan tutup tangki BBM sudah dibuka.
Saat tiba antrian kita tinggal maju isi.
Selesai isi BBM, bayar, kemudian tuntunlah motor beberapa meter kedepan agar antrian di belakang kita bisa langsung maju.
Baru kemudian kencangkan tutup tangki, dan kondisikan jok pada posisi awal dan mulailah menyalakan kendaraan untuk mengaspal kembali.
Selamat Libur hari senin teman-teman online sekalian.
Salam dari mas-mas helm Kuning.
Kita mulai dari nol lagi ya

