Aku ?

Adalah hal yang rumit bin njelimet jika membahas masalah yang satu ini.
“Everyone has a uniqe preception”
jelas salah seorang temanku menggambarkan bahwa figur “Aku” ialah sosok yang sulit ditebak. “Aku” sendiri berdiri ditopang “A” sebagai pembuka dan “U” sebagai pemungkas. Artinya apa ? jika dilihat melalui pendekatan cocokologi, A dan U masing-masing menjadi batas kelas baik atas maupun bawah, huruf vokal pada urutan alfabet.
Hal ini mengindikasikan bahwa semua kata yang dapat disusun oleh vokal A, U serta tiga huruf vokal lain diantara keduanya dapat dijadikan sebagai gambaran menganai figur “Aku” itu sendiri, baik dalam hal yang sangat baik, baik, agak baik, cukup baik, kurang baik, belum buruk, mendekati buruk, buruk, buruk sekali, hingga sangat amat teramat buruk sekali. Lebih jauh lagi ternyata kata “Aku” tidak bisa dipisah kaitkan dengan beberapa kata lainya seperti P(aku), K(aku), L(aku), S(aku), R(aku)s, (aku)R, yang ketika masing-masing dikuliti lebih dalam akan memberikan pemahaman yang lebih mencengangkan tentang pengenalan figur “Aku”.
Paku, mudah berkarat, runcing, lancip, menyakitkan, dipukul-pukul, ditekan-tekan, dibengkokkan, ditarik, hingga dapat menyatukan, gimana kurang pas apa coba dengan sifat “Aku” ?
Kaku, contoh paling gampang kita temui pada “Aku” yaitu selalu ingin menang sendiri dengan membenarkan pendapat pribadi dan menolak kebenaran dari orang lain. Melemparkan kalimat diatas kepada orang lain tanpa pernah mau melempatkanya dalam benak pribadi.
Laku, ehem jomblo harap bersabar ya ini Ujian akan tiba saatnya nanti Yudisium dan KRS,an, eh vakum dan langsung ke pelaminan maksutnya.
Saku, satu hal yang tdak bisa lepas dari figur “Aku” yang memang telah dinobatkan sebagai cah angon yang ditugaskan untuk “Nggayuh Limo Blingir Blimbing” sebagai bekal pelepas dahaga sebelum mengantar gembala kembali pada Juragan.
Rakus, Ini dia sifat yang selalu merasa kurang dengan apa yang sudah ditangan, dan cenderung ingin mengambil apa yang ada ditangan orang, bahakan kadang mampu menjadikan orang tidak segan berperan sebagai pagar yang memakan tanaman, musuh dalam selimut, penyalip dalam tikungan, penggunting dalam lipatan, hingga bermain bola dalam lapangan eh oposih.
Akur, tapi tetap, “Aku” ialah sosok yang tidak selamanya dipenuhi dengan keanehan, aku sering akur kog baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain sebagai perwujudan sifat “Aku” sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.
Dimana Aku ?
Dimana ? ya dimana, jawaban pertanyaan dimana pasti menyangkut posisi, lokasi, tempat, koordinat bukan ? seratus !!!! benar sekali !!!!, tapi eits tunggu sebentar, jawaban tersebut benar ketika pertanyaan tersebut ditujukan untuk benda atau orang lain.
Dimana tempat pertemuan Milea dari ramalan yang diperkirakan Dilan ?
jawabanya mudah sekali pasti kantin.
Begitu pula jika pertanyaanya dimana kau menemukan jodohmu ? jawabanya pasti sangat mudah ditebak “maaf mas saya belum nemu jodoh” lah wong yang ditanya jomblo haha.
Akan berbeda 180º ketika redaksi pertanyaanya diganti menjadi berbunyi “Dimana Aku ?”
Jawaban atas pertanyaan “Dimana aku ?” tidak lagi menganut sifat yang menyangkut posisi, lokasi, tempat maupun koordinat. Lantas ?
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahui dimensi lain dari seorang figur “Aku”. Adakalanya pertanyaan ini ditujukan pada diri sendiri namun sering juga ditanyakan pada orang lain. Dan jika pertanyaan yang diutaran melalui perantara lisan niscaya takkan ditemukan oleh sang penanya suatu jawaban.
Pertanyaan ini akan efektif jika ditanyakan melalui tidakan dan juga akan dijawab melalui tindakan. Jika kita menginginkan suatu jawaban artinya kita juga harus memeberikan jawaban yang keduanya hanya dapat dilakukan melalui tindakan.
“Sebenarnya Dimana Aku ?”
Pertanyaan yang sangat membingungkan bukan ? bahkan lebih membingungkan dari soal ujian. Sebagaimana sulitnya menjawab soal ujian persoalan pertanyaan ini sebenarnya juga dapat disederhanakan melalui pendekatan penggunaan pemisalan.
Misal kita ingin mendapatkan surprise atau kejutan dari teman kita saat kita ulang tahun yang kemudian keingginan ini disetarakan sebagai suatu jawaban, maka untuk mendapatkan jawaban tersebut kita harus terlebih dahulu memberi jawaban kepada teman kita memalui pemeberian kejutan saat teman kita ulang tahun. Ketika sudah terbentuk sistem yang demikian, maka pertanyaan “Dimana aku ?” yang sebelumnya abstrak dapat dinyatakan dalam kondisi nyata melalui posisi, tempat, lokasi, dan koordinat.
Dimana Aku ? Aku ada dihati temanku dan temanku ada dihatiku.
Ada lagi contoh lain, misalkan saat nanti kita menikah kita menginginkan mantan kita untuk hadir dalam pernikahan kita yang kemudian keinginan ini disetarakan sebagai jawaban, maka untuk mendapat jawaban tersebut, kita harus terlebih dahulu memberi jawaban kepada mantan kita melalui kehadiran kita dalam acara pernikahanya.
Ketika sudah terbentuk sistem yang demikian, maka pertanyaan “Dimana aku ?” yang sebelumnya abstrak dapat dinyatakan dalam kondisi nyata melalui posisi, tempat, lokasi, dan koordinat.
Dimana Aku ? Aku ada dihati mantanku dan mantanku ada dihatiku.
Aku
Jika dalam sebuah kotak ada tiga bola yang masing-masing tertulis huruf A, K, dan U kemudian kita ambil acak dan kita susun sebagi suatu kata, bagi anak matematika akan ada 6 kata yang berpeluang terbentuk berdasarkan persamanaan n!(red: n faktorial), yaitu A-K-U, U-A-K, K-U-A, A-U-K, U-K-A, K-A-U. Namun jika AKU yang mengambil maka hanya ada tiga kata yang tebentuk A-K-U, K-A-U, dan K-U-A.
Semarang, 27 Februari 2018.

