Kita Semua Tidak Pernah Siap

Kita Semua Tidak Pernah Siap

Setelah merampungkan masa belajarku di Aliyah, aku ragu, akankah aku bisa bekerja atau lanjut kuliah ? Keraguanku terjawab ternyata kesempatan untuk belajar masih bersahabat denganku.

Setelah resmi diterima di UNNES, aku ragu, akankah aku bisa menjalani rutinitas sebagai mahasiswa disana ? Keraguanku terjawab, setidaknya hingga detik ini aku masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas demi tugas.

Saat pinangan jadi nahkoda salah satu organisasi datang padaku, aku ragu, akankah organisasi itu baik-baik saja di bawah kendaliku ? Keraguanku terjawab, sekalipun tak bisa memuaskan target beberapa anggota namun setidaknya tak ada kesan buruk yang tertinggal.

Saat nama timku tertulis di pengumuman LKTI, Mapres, ataupun PIMNAS, aku ragu, tak muluk-muluk setidaknya akankah aku bisa menjadikan orang-orang yang tulus mendukungku agar tidak kecewa ? Keraguanku terjawab, ternyata semua masih baik-baik saja.

Saat PPL dan KKN datang, aku ragu, akankah aku bisa menunaikan kewajibanku bersama-sama orang yang tidak aku kenal sebelumnya ? Keraguanku terjawab, mereka kini justru menjadi keluarga baru sekalipun tanpa pertalian darah.

Saat tugas akhir Skripsi beraga di genggamnku, aku ragu, akankah aku bisa menyelesaikannya tepat waktu ? Sekalipun belum terjawab, setidaknya 2 langkah awal kulalui tanpa masalah yang berarti.

Lulus kuliah sudah di depan mataku, rasanya aku tak pandai belajar dari pengalaman, lagi-lagi aku kembali ragu, akankah segala harapan yang disematkan kepadaku bisa terwujud ? Akankah aku bisa melakukan hal yang seharusnya aku lakukan di masyarakat ? Atau justru namaku ikut menambah deretan sarjana yang justru menjadi beban ?

Aku jadi ragu dengan perkataanku sendiri
Kita tak pernah benar-benar siap terhadap apapun yang akan menyambut kita, kata siap baru tertulis setelah kita selesai melaluinya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *