Sekolah Pilihan, Tanpa Batas Zaman

Sekolah Pilihan, Tanpa Batas Zaman

Syawal akan selalu menjadi bulan silaturahmi, akan banyak ilmu sekaligus petuah yang kita dapat peroleh saat menjalankan budaya sowan-sowan. Tak terkecuali dengan syawalku tahun ini, kemarin lusa saat sowan di kediaman bapak kosku di Ungaran Timur, berbagai kisah mulai saat masih kecil, remaja, perjuangan setelah menikah, menghidupi dan membesarkan sekaligus mendidik anak istri, beliau bagikan secara cuma-cuma seperti masakan ibu kos yang sedang kami santap.


Aku berusaha mengimbangi beliau dengan sedikit-sedikit bertanya. Beberapa anak kos hanya manggut-manggut dan sesekali memosisikan telapak tangannya untuk menutupi tanda kantuk di mulut mereka. Maklum saja tak semua bisa bahasa Jawa secara fluent haha.


Karena perbincangan ini bukan diskusi resmi yang terdapat moderator sebagai pemandu, maka alur bahasanya sudah pasti bebas ngalor ngidul ngetan ngulon. kondisi semacam ini menurutku lebih baik, karena waktu yang lama menjadi terasa begitu singkat.

Entah bagaimana awalnya, pembicaraan yang isinya wejangan agar sungguh-sungguh untuk kuliah, bergeser ke permasalahan di dunia pendidikan yang sekarang tengah gencar-gencarnya diprotes orang-orang.
Pasti sudah tahu kan apa topik tersebut ? Yup betul sekali, Zonasi.

Beliau menuturkan bagaimana kebijakan zonasi membatasi anak-anak yang akan melanjutkan ke jenjang SMP SMA kesulitan untuk masuk sekolah Negeri mengingat desa beliau berada diluar batas zonasi sekolah negeri terdekat.

Menjadi rahasia umum bahwa beberapa tahun terakhir telah diberlakukan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru. Dasar tujuan digulirkannya kebijakan ini agar terwujud pemerataan kualitas pendidikan.
Dengan zonasi diharapkan tidak ada lagi ketimpangan antara sekolah favorit dengan sekolah inferior akibat perbedaan input kualitas siswa. Jarak sekolah dan rumah yang dekat juga akan menjadikan perkembangan psikologi siswa menjadi lebih baik.

Tak hanya berdampak ke siswa, kebijakan ini akan menjadikan guru dan sekolah untuk berlomba-lomba meningkatkan kompetensi dan kualitas mereka.

Namun demikian setiap kebijakan akan selalu diikuti dengan pro kontra. Setidaknya itulah yang banyak dibicarakan di jejaring sosial saat ini. Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit pula yang tegas-tegas menolak.
Masing-masing berdiri dengan argumen dan pendapatnya. Mudah saja sebenarnya untuk mengklasifikasikan mana yang mendukung dan menolak, kita hanya tinggal menarik garis ke belakang dan ke depan dan mengeluh pertanyaan, siapa yang merasa diuntungkan dan siapa yang merasa dirugikan ?

Minimal ada dua pihak yang akan diuntungkan pertama guru dan sekolah yang non favorit, kedua ialah orang tua dan siswa yang rumahya dekat dengan sekolah favorit.

Bagi sekolah non favorit, Input kualitas siswa akan relatif meningkat. Siswa dengan bekal nilai akademik yang baik, akan terganjal masuk sekolah favorit dan mau tidak mau harus masuk ke sekolah yang dekat dengan rumahnya.

Efeknya langsung dirasakan guru, yang sebelumnya guru relatif memerlukan effort lebih dalam mengajar kini guru bisa menyungging senyum karena persentase siswa yang mudah menangkap pembelajaran semakin meningkat, yang dulu harus mengulang-ulang materi pelajaran kini pembelajaran bisa lebih maksimal.

Guru mana yang tak bahagia jika murid-muridnya semakin mudah menangkap materi pembelajaran ? Secara psikologis semangat guru dalam mengajar akan semakin meningkat.

Orang tua dan siswa mana yang tak bahagia jika anaknya bisa masuk ke sekolah yang reputasi dan track recordnya baik ? Asal syarat domisili dekat dengan lokasi sekolah terpenuhi, lebih-lebih dekat dengan sekolah favorit. Sekalipun bermodal nilai pas-pasan maka akan tetap berpeluang besar diterima.

Point pentingnya siswa yang satu ini tetap harus belajar lebih keras agar kebanggaannya bukan sekedar numpang nama sekolah, namun memang benar-benar berbangga atas prestasi yang dicapai oleh dirinya. Jangan sampai sudah diberi kesempatan masuk di sekolah yang bagus, justru leha-leha tak berusaha berubah, yah wassalam.

Jika mau tau siapa yang merasa dirugikan ya tinggal lihat saja oposisi pihak yang merasa diuntungkan. Benar saja, ada guru dan sekolah favorit, serta orang tua dan siswa yang rumahnya tak masuk ke zonasi sekolah.
Tahun-tahun sebelumnya sekolah favorit bisa tersenyum manis karena menerima pendaftar dengan kualitas baik, namun tahun ini harus menunda senyumnya.

Yang sebelumnya kelas didominasi oleh siswa yang mudah menerima materi, kini guru tak bisa lagi melalui “Jalan Tol” saat mengajar di kelas. Secara langsung maupun tak langsung psikis guru akan sedikit berubah. Namun demikian di tangan guru yang baik kondisi ini justru menjadi tantangan agar bisa semakin meningkatkan kompetensinya.

Kondisi hampir sama mau tak mau harus diterima siswa yang rumahnya berada di pelosok desa. Walaupun punya modal nilai bagus, akan menjadi tak berarti jika rumahnya berada diluar batas minimal zonasi.
Masih untung jika masuk zonasi walaupun zonasi sekolah non favorit asal masih berstatus negeri. Tapi jika tak ada satupun sekolah negeri yang masuk ke zonasi ?

“Lajeng tiang mriki dos pundi Bu ?”


“Yo py yo mas, kudune ki aturane diperbaiki meneh, diatur meneh masalah kuotane, masalah jarak maksimal zonasi, terus mikirke py carane SG adoh-adoh Soko sekolah negeri tetep iso sekolah Ning negeri, tapi nek wis koyo ngene Saiki ya arep py maneh, lek sg sekirane wong duwe lan wani udu ya sekolah ng swasta, tp nk wong biasa-biasa wae ya paling sekalian mlayune ng pondokan”


That a good point


Aku manggut-manggut dan yaaah begitulah. Sekalipun mengeluh terhadap keadaan beliau sebisa mungkin mencari jalan keluar terbaik.

Aku yakin pondok pesantren dipilih bukan hanya karena pelarian akibat adanya sistem zonasi, lebih dari itu ada berjuta impian yang dititipkan orang tua kepada anaknya saat memilih lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini sebagai pelabuhan pendidikan bagi anak-anaknya. Tak sekedar menginginkan anaknya “Dadi Wong” di dunia tapi juga bisa menjadi wasilah kebahagiaan orang tua di akhirat.

Pesantren memang tak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan Indonesia. sistem pendidikan yang dijalankan bahkan sudah dimulai saat negara ini belum berdiri. Berbagai penyesuaian terhadap tantangan zaman tanpa meninggalkan identitas diri, menjadikan pesantren tak pernah kehilangan ruhnya menghadapi persaingan lembaga pendidikan formal lainya.

Dulu barangkali santri (sebutan bagi orang yang belajar di pondok pesantren) menjadi identitas yang dipandang dengan sebelah mata dengan stigma tumonen gudiken dll kini berubah drastis. Santri telah menemani perjuangan lahir sekaligus berkembangnya bangsa Indonesia. Santri telah mampu menempatkan diri di semua posisi penting di tanah air ini.

Hmmm bagi warga desa sebenarnya impiannya tak sampai setinggi itu, sederhana saja anak mereka bisa melanjutkan perjuangan tokoh masyarakat alumni ponpes yang kemudian berkhidmat di desa mereka saja sudah sangat bahagia sekali.


Bagaimana tidak, warga menilai bahwa menjadi kiai desa saja itu sudah kebahagiaan hidup yang tak terperikan, kehidupan beliau-beliau sederhana tapi begitu bermakna.

Masalah “Pangupo Jiwo” beliau-beliau mengisi hidup dengan pekerjaan “Ora Ngoyo”, tapi entah dari mana datangnya ada saja yang menjadikan kehidupan beliau-beliau terasa berkecukupan.
Sampai disini rasanya ada penyesalan kepada diriku sendiri.


“Ngopo yo biyen g mondok wae ?”.
Alih-alih berkata demikian, nyatanya dengan umur yang masih memungkinkan untuk mondok aku tak mengambil keputusan untuk mondok.

“Ah dasar koe ki Ron Bulshit, gur pingin-pingin thog”.


Ya seperti itulah merasa ingin sekali meraih sesuatu tapi tak kuasa mengikuti prosesnya.
Ingin sekali dikemudian hari berkhidmat di masyarakat namun tak berani mengambil keputusan seperti teman-teman Aliyah serta kuliahku. Yang setiap hari harus menjalani hiruk pikuk kehidupan pondok. Bangun pagi, antri mandi, antri nyuci, ngaji, setoran, keroyokan mangan, telat mangkat sekolah lan kuliahan, ngantuk pas jam pelajaran, tugas Iki rung rampung tanggungan kwi wis siap arep nyandung.


“Rasah dipikir Ron, ngaji ki g kudu mukim penting jelas ngajimu Ng ngendi, asal sanad sambung Nabi, koe ws sah diceluk santri”
Begitulah tanggapan salah satu temanku setelah aku cerita kegelisahanku. Tapi aku segera sadar besar kemungkinan temanku itu sekedar berniat menyenangkan hatiku.


Mulai saat itu aku punya keinginan kelak anaku harus kupondokan. Berjalanya waktu aku semakin paham bahwa perlu keteguhan hati orang tua untuk merelakan anaknya.


Fikiran “Anaku ngesuk mangan opo Ning pondok, iso turu ora” jadi beban tersendiri.

Terlebih bagi seorang ibu yang dominan menggunakan perasaan kepada anaknya, mau tidak mau, gelem orang gelem kudu wajib “Tegel masrahke anake”.
Maka dari itu agar impianku bisa terwujud, setidaknya ibu dari anaku harus “Tegelan”.
Nah pilihan terbaik sepertinya jatuh ke kategori perempuan yang dulu “Ditegeli” orang tuanya untuk dititipkan ke pondok pesantren.
Ada yang berminat ? Tulis WA di bawah yak, semoga aku siap menjalani “Fit and Proper Test” orang tuamu. Hahaha

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *