Cita-citaku Cita-cita Mulia

Cita-citaku Cita-cita Mulia

Sampai saat ini aku masih penasaran, apa yang dilontarkan oleh orang-orang yang sekarang berprofesi sebagai astronot, pilot, dokter, atau polisi/TNI saat dulu ditanya guru TK SD apa cita-citanya. Apa memang profesi mereka saat ini sesuai dengan jawaban polos mereka saat masih kecil atau justru tak terbesit sedikitpun bayangan mereka akan menggeluti profesinya sekarang ?

Selalu seru memang saat berbicara masalah cita-cita. Terkadang lucu juga saat teringat jawaban optimis masa lalu dengan cepat-cepat menjawab Astronot, Pilot, ataupun dokter saat ditanya guru. Kenapa lucu ?

Sebenarnya lebih tepat dibilang kagum melihat bahwa diri kita pernah berani bermimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya, meskipun kadang ada satu dua halangan sehingga impian tersebut kita turunkan standartnya.

Dan Tara sampailah kita pada masa dewasa, masa dimana kadang kenyataan justru berbalik arah memunggungi impian. Dari yang tertinggi posisinya dari bumi yaitu cita-cita astronot, semakin bertambahnya tahun justru semakin turun ketinggiannya cita-citanya dari bumi, astronot ke pilot, pilot ke dokter dan seterusnya.

Yas termasuk diri ini yg entah dulu saat ditanya cita-cita diri ini menjawab apa sudah lupa. Hiks ah sudah masa lalu bukan untuk diratapi.

Ada cerita yang menarik dan mengganjal di pikiranku semasa mulai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Seperti biasa ajang KKN harus dimanfaatkan untuk latihan bersosialisasi di masyarakat secara langsung, mulai dari anak-anak hingga lansia. Dan tentu memainkan peran untuk bersosialisasi dengan masing-masing kelompok tentu perlu resep yang berbeda-beda tak terkecuali saat berhadapan dengan anak-anak. Subjek paling asik dan membuat selalu kangen kegiatan KKN.

Pemandangan Gunung Andong, Smbing dan Sindoro dari Desa KKN

Berbekal idealisme yang kuat, maka terjunlah memulai interaksi dengan anak-anak. Dan sampailah pada pertanyaan umum yang sudah diketahui khalayak umum.

“Adek kalau sudah besar mau jadi apa ?”

Ya seperti umumnya, harapan kami anak-anak di desa itu akan menjawab seperti jawaban kami dimasa kecil, ada astronot, pilot, dokter dkk. Agar aku dapat memotivasi anak-anak agar bisa semangat belajar dan bisa menempuh pendidikan tinggi seperti kami. Ya keinginan yang wajar bagi mahasiswa dengan segala idealismenya.

Tapi prediksiku meleset jauh, hanya sebagian kecil saja yang menyebutkan jawaban sesuai perkiraan kami. Mayoritas jawaban anak-anak lainya membuatku menjawabnya dengan salah tingkah.

“Oalah. …”

Kata itu keluar dengan nada kebingungan setelah aku mendengar jawaban

“Kalau besar nanti aku ingin jadi petani”

Sadar mereka merasa tak nyaman dengan ekspresi ganjil yang ada dalam raut mukaku cepat-cepat kututupi kekagettanku dengan doa

“Wah bagus itu cita-citanya mau jadi petani, kalau tidak ada petani terus nanti yg menyediakan bahan makanan untuk orang-orang siapa, kalau Ndak ada petani nanti orang-orang Ndak bisa makan kan ? Petani itu pekerjaan yang sangat mulia Lo Belajar yang rajin ya Dek, biar esuk bisa jadi petani yang sukses”

“Aamiin aamiin”

Aku sangat penasaran dengan apa yang ada dalam benak anak-anak ini. Aku tak sedikitpun menyangsikan atau memandang sebelah mata profesi petani karena orang tuaku sendiri adalah buruh tani tapi sebenarnya ada apa ini ? Saat dimana anak-anak lulusan sekolah menengah atas di daerahku lebih memilih berlomba-lomba untuk sekolah atau kerja diluar kota dibanding menjadi petani di desa dengan berbagai alasannya, justru di sini anak-anak kecil yang polos dengan tulusnya menjawab ingin menjadi petani ????

Setelah beberapa hari tanya ngalor-ngidul dengan beberapa orang akhirnya aku menemukan penjelasannya dan aku menyepakatinya. Sekalipun sama-sama petani, namun karena berbeda daerah dan komoditi yang dihasilkan ternyata penghasilannya berbeda.

Di daerahku petani padi sekedar digunakan untuk konsumsi pribadi, namun kalau di daerah dataran tinggi pertanian sayur sudah dirasa mampu menjadikan orang berkecukupan. Kelihatanya saja rumahnya biasa-baisa saja namun kalau sudah masuk rumahnya, beeehhh jangan ditanya apa perabot yang tidak ada di dalamnya.

Kalau di daerahku saat ada bangunan berdindingkan papan (gebyog) yang mengunci pintunya cukup diganjeli balok, jika baloknya diambil yang keluar mungkin paling banter sapi, tapi disana pernah kusaksikan yang keluar bukan binatang ternak beserta pakanha namun justru Inova putih yang keluar dari dalamnya. Ya seperti itulah sekalipun dari bertani mayoritas warga disana sudah merasa lebih dari cukup.

Munculah kebingungan selanjutnya, tentang bagaimana caranya memotivasi anak-anak agar memiliki semangat dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya, mengingat di masyarakat kita termasuk saya pribadi masih menilai bahwa output sekolah ya memperoleh pekerjaan ?

Bagaimana caranya kami memberikan harapan bahwa dengan dengan melalui pendidikan akan mempermudah memperoleh pekerjaan dengan hasil yang layak, sedangkan dengan berbekal kemampuan bertani dari orang tua tanpa pendidikan yang tinggipun sudah mendapatkan hasil yang bisa dibilang kecukupan ?

Bagaimana caranya kami memberi bayangan kepada mereka bahwa dengan menempuh pendidikan hidup akan menjadi lebih baik, sedangkan disisi lain kami yang hendak memberikan harapan belum tau pasti selepas gelar sarjana datang harapan yang kami bangun akan jadi kenyataan akan terwujud atau tidak ?

Malam itu pukul 20.14, suhu menyentuh angka 12 derajat, suhu udara boleh dingin tapi diskusi lingkaran tim kami terus menghangat. Tak ada yang salah jika mereka bercita-cita sebagai petani, tak salah juga jika mereka menempuh pendidikan tinggi. Jika nanti mereka bisa menjadi petani berpendidikan tinggi, Kenapa Tidak ?
Saatnya ambil peran.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *