Cinta dan Benci

Cinta dan Benci

Jauh sebelum banyak kanal media sosial bermunculan, bokong truk telah lebih dulu eksis menjadi entitas penyalur ungkapan-ungkapan menarik, yang mayoritas berisi petuah kehidupan.

“Cinta itu mekar secara alami, sedangkan kebencian takan bisa tumbuh, kecuali diajari”

Tak pikir-pikir, tak angen-angen karo nyetir. . . . . Jan banget bener,e tulisan kuwi.

Manusia dengan sesamanya secara alami pasti akan mudah untuk saling mencintai, dan hati kecilnya akan sangat menolak untuk saling membenci. Loh piye tho, jare secara naluri menolak membenci, tapi nyatane rasa benci itu masih bersemayam di banyak hati? Ya itu tadi kebencian itu buah dari pengajaran. Pengajaran siapa? ya pengajaran lingkungan serta manusia sekelilingnya.

Semakin bertambah umur, semakin bertambah peluang membenci, semakin banyak residu penyakit terkumpul hati. Kalau diingat-ingat, selama 23 tahun kebelakang, sudah tak bisa dihitung lagi kebencian yang pernah muncul. Dari mulai benci skala entry level hingga yang banget gethinge. Kesemuanya pada akhirnya bermuara pada satu simpulan, yaitu penyesalan.

Satu pengalaman yang semoga tidak akan terjadi lagi. Kondisi dimana pernah sangat membenci orang. Saking bencinya, jika namanya disebut, tanpa perlu dikomando otak akan tancap gas menganulir semua kebaikan dan mengungkit-ungkit segala kesalahan yang pernah dia buat. Segala macam ucapan, pandangan, pendapat, tindak laku yang diperbuat, sebisa mungkin aku mengambil posisi berseberangan agar terlihat akulah yang benar dan dia yang salah. Saking bencinya lagi, pernah juga muncul semacam rasa was-was, tidak nyaman, tidak rela, kecewa, menderita, jika mendengar kabar dia sedang bahagia, muncul semacam rasa lega, plong, bahagia, saat kesusahan sedang merundungnya.

Parahnya lagi rasa ini tidak hanya hadir sehari dua hari, rasa ini muncul ada sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan yang semakin bertambah lama berlipat besar pula kebenciannya. Bayangkan empat bulan, ya empat bulan, empat bulan itu sama dengan 120 hari, empat bulan itu sama dengan sepertiga tahun, dan selama sepertiga tahun itulah rasa yang menyiksa itu tidak berhenti, dari mulai bangun tidur, hingga saat tidur pun kegowo ngimpi. Benar-benar siksaan yang sebelumnya belum pernah kurasakan. Sampai pada akhirnya aku sadar siksaan itu yang membuat diriku sendiri, dan obatnya juga ialah diriku sendiri.

Semua berawal dari kesalahan meletakan cinta dan benci. Kondisi seperti ini seharusnya tidak dipahami dengan pendekatan antonim.

Antonim cinta ialah benci. Lawan kata cinta ialah benci. Jadi jika aku tidak cinta maka aku harus benci. Antonim manis ialah pahit. Jadi jika tidak manis, maka sudah bisa dipastikan rasanya pasti pahit.

Untungnya prinsip ini tidak terlalu berlarut kupegang, karena sadar bahwa kondisi ini lebih sesuai didekati dengan konsep negasi.

Negasi manis ialah tidak manis. Tidak manis bukan berarti selalu pahit. Bisa jadi rasanya getir, masam, ataupun tawar. Negasi cinta ialah tidak cinta. Tidak cinta bukan berarti benci. Bisa juga masih sayang hahahhaa.

Mari berhenti membenci, berhenti mengajari kebencian. Membenci orang sama dengan menyiksa diri sendiri. Mewariskan kebencian sama dengan menyimpan bom waktu. Fitrah manusia tercipta dari cinta, dan ditugaskan menebar kasih sayang. Luwih becik nyandhing tinimbang gething.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *