Pada berbagai kesempatan, tujuan beberapa hal disandingkan ialah yang ingin dibandingkan, menentukan apa-apa saja kesamaan dan dimana saja letak perbedaannya. Kalau boleh dibagi ada 3 unsur utama kesamaan antara Cinta, Kentut, dan Covid-19 . Tidak Bisa Dilihat, Dapat Dirasakan, dan Nyata Adanya.
Covid itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, sebagaimana Cinta dan Kentut juga tidak bisa diindra mata. Namun apa yang menjadikan Cinta dan Kentut itu diyakini semua orang ada, sedangkan Covid masih tidak diyakini sebagian kalangan?
Kalau ada dari kita yang kentut saat berkumpul, sekalipun itu diam-diam, satu ruangan akan langsung sadar bahwa ada yang kentut. Padahal jelas-jelas kentut kita tidak bisa dilihat, namun kenapa semua percaya? Yes karena aroma kentut bisa dirasakan, dan keberadaanya tidak hanya dirasakan oleh yang kentut saja melainkan orang di sekelilingnya juga langsung terdampak.
Cinta. Yak untuk bahasan kedua ini tidak perlu ditanyakan lagi keabsahannya. Sekalipun tidak terlihat, tidak ada satupun yang menolak keberadaannya. Bisakah cinta dirasakan? Jelas bisa.
Mari mengingat-ingat, saya yakin banyak dari kita pernah berjalan berduaan, melihat sesuatu hal di jalan, kemudian mata saling bertemu pandang, sekalipun tanpa satu katapun terucap, tawa kecil muncul serempak, menandakan keduanya saling tahu apa yang sedang terfikirkan. Itulah buah dari adanya Cinta. Wis jian guya guyu dewe nek kelingan sg ngeneki.
Beda cerita dengan Kentut yang busuknya bisa langsung dicium orang lain dan Cinta yang kebahagiaannya bisa langsung memabukan dua sejoli, Covid ini agak spesial sehingga banyak memunculkan pertanyaan Apakah Covid benar-benar ada? Sayangnya masih ada beberapa alasan yang membuka peluang orang menyangkal adanya covid.
Pertama, Covid ini tidak bisa dirasakan selain orang yang mengalaminya sendiri, berbeda dengan cinta maupun kentut yang juga dapat dirasakan oleh orang di sekitar.
Kedua, jika dikaitkan dengan imunitas, maka secara logika imun orang yang usianya muda akan lebih kuat dibanding orang lebih tua, artinya yang muda akan lebih kuat melawan covid dibanding yang sudah tua. Sayangnya tidak sedikit kasus, yang muda banyak yang tumbang sedangkan yang tua justru seger kuwarasan.
Ketiga, penularannya seringkali bersifat tidak masuk akal, banyak orang minim kontak namun positif, disisi lain banyak juga yang jelas-jelas kontak erat dengan pasien terpapar, namun tidak berdampak apa-apa. Dan kasus seperti inilah yang sering memunculkan komentar
“Lo endi nyatane aku sing ngopeni mbendino yo gpp, di tes wae negatif”.
Satu lagi, dan ini yang menjadikan Covid itu rumit dan sulit ditebak. Jangankan orang yang negatif, orang yang dinyatakan positif pun, banyak yang tidak merasakan perbedaan antara sebelum terpapar dan setelah terpapar. Kalau sudah begini tidak aneh jika banyak orang yang berfikiran bahwa
“Covid ki gak ono, endi wong aku dinyatakan positif tapi blas gak ngrasake bedo opo-opo”.
Tapi marilah coba kita merenung sebentar.
Bagaimana bisa Covid tidak ada, namun seluruh dunia gelagapan mencari jalan keluar ?
Bagaimana bisa Covid tidak ada, namun negara berani mengambil resiko meliburkan seluruh sekolah yang buka ?
Bagaimana bisa Covid tidak ada, jika banyak korban yang berjatuhan?
Bagaimana bisa Covid tidak ada, jika Rumah Sakit Penuh bahkan sampai ada yang dirawat di pelataran?
Jika ada orang yang masih kekeh tidak percaya, sebenarnya tidak terlalu masalah sejauh keraguannya digunakan untuk diri sendiri, namun jika kemudian ketidak percayaannya dikampanyekan untuk diikuti orang lain? Saatnya kita bantu mengingatkan. Kalau masih ndak mau, jawab saja
“Semoga Jenengan Sekeluarga senantiasa dianugrahi kesehatan, kelapangan rezeki, ketenangan hidup, dan keberkahan”
K.D.M
Salah satu Penyintas Covid

