Pak Ronni

Pak Ronni

Berjalannya waktu telinga sudah mulai beradaptasi dan merasa tidak ada yang aneh lagi. Meskipun dulu pertama kali kudengar, jujur rasanya geli sendiri. Maklum saja, awal mengajar masih berusia 21. Usia yang seharusnya lebih cocok dipanggil Mas. Tapi ya begitu… untuk memenuhi unsur formal sekaligus penghormatan, terhitung mulai tanggal 17 Juli 2019 aku harus membiasakan diri dengan panggilan baruku.

Yup Betul, Panggilan Baru.

“Assalamualaikum Pak Ronni”
“Selamat Pagi Pak Ronni”
“Selamat Siang Pak Ronni”
“Hati-hati di Jalan Pak Ronni”

Sapaan-sapaan ini awalnya kukira hanya kutemui saat sedang di sekolah saja. mengingat murid-murid sekolahku berasalnya dari hampir seluruh kecamatan di Kab. Blora.

Jadi ya begitulah. Mau kemana saja pasti ketemu murid sendiri.
Jangankan di Blora, saat weekend dan main ke kabupaten tetangga, tiba-tiba terdengar suara panggilan.

“Pak Ronni…… Jenengan ting mriki Pak?”

“Iyo ik muter-muter golek howo, La awakmu dolan kog adoh men tekan kene”

“Hehe Enggih Pak, sekali-sekali. Loh Pak Niki Sinten,e Jenengan Pak?”

“Halah wis rasah tekon-tekon. R A H A S I A !!”

Kufikir-fikir banyak untungnya juga kondisi ini. Misal sewaktu-waktu terjadi sesuatu di jalan dan butuh bantuan tinggal menghubungi salah satu murid yang terdekat juga. Selain itu, bisa kujadikan batasan juga agar tidak main ke tempat yang aneh-aneh.

Bayangke pas dolan ng gon sg gak genah kog pethukan karo muride.


“Loo Pak Ronni kog ting mriki, pados nopo Pak . . . ?”


Yaa Hancurlah dunia persilatan.

Uniknya, ada satu hal yang kucatat dan sering kujumpai sendiri. Sekalipun barangkali dianggap sebagai anak yang rodo ndhablek saat di kelas, namun ketika bertemu di luar sekolah, anak tersebut menyapa dengan penuh ta’dzim kemudian cium tangan. Terkadang nek nyawang awaku dewe rasane drung panten menerima penghormatan sebegininya, terlebih statusku masih guru anyaran.

Namun ya demikian ini yang kurindukan terlebih selama pandemi, dapat berinteraksi dengan anak-anak di kelas. Ya walaupun terkadang agak nganyelke, harus sabar melihat kelakuan aneh anak-anak, tapi tetap perjumpaan dengan mereka tidak bisa tergantikan dengan teknologi apapun.

Saat kuliah dulu, bisa mengikuti kompetisi Mapres Tingkat Universitas, Kompetisi tingkat nasional dan Juara di PIMNAS, rasa senang dan bangganya sungguh sudah sangat luar biasa. Tapi kebahagiaanku dulu, rasanya kog sudah tidak ada apa-apanya dibanding dengan sekarang, kebahagiaan saat melihat murid bimbinganku jadi juara, rasa bangganya berlipat-lipat.

Dulu saat masih jadi murid, setiap idul fitri datang, agenda wajib kami ialah sowan ke kediaman Bapak Ibu Guru. Dulu ya paling niatnya hanya main-main kumpul karo kancane, tapi ternyata. Saat kemarin rumahku didatangi murid-muridku. MasyaAllah rasane, di hati mak trecep-trecep. Mungkin inilah yang disebut kenikmatan menjadi seorang guru.

Oh iya ada satu lagi dan barangkali ini puncaknya. Sekalipun tidak ada aliran darah dalam hubungan Guru dan Murid, tapi ada hubungan ilmu yang menautkan hati keduanya. Dan saya sangat yakin itu, buktinya dua momen lebaran kemarin. Saya selalu melihat ada pemandangan murid-murid dulu yang diajar oleh seorang guru di kelas, kini mereka berganti mengelilingi pusara beliau dan melangitkan doa-doa terbaik untuk gurunya.

Teruntuk Semua Guru-guru Kita baik yang masih Sugeng ataupun yang sudah Kapundhut
Al- Fatihah . . . . .

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *