Pesbukan

Pesbukan

Beberapa waktu lalu saat update story WA berisi capturan FB, ada salah satu adik tingkat di kampus komentar

“Loh mas iseh aktif fb,an ta ?”

Dari cara dan isi pertanyaannya sebenernya sudah bisa ditebak dia mau mengatakan FB itu sosmed sudah kuno dan tidak kekinian. Tapi benarkah demikian ? Jawabannya Tentu Tidak

Aku mulai mengenal dan mendaftar fb tahun 2011 jaman SMP kelas 2, mendaftar bukan karena mau mencari kenalan, tapi lebih karena sering tidak nyambung saat teman sekelas bahas game Ninja Saga, demi bisa ikut memainkan game ini dan terlihat update di depan teman sekelas akhirnya daftarlah saya.

Saat itu mulailah sering main ke warnet, setelah pulang sekolah mampir warnet Yellow karangjati (dulu utaranya penjual bunga), dan tiap malam minggu kalau tidak ke ThreeNet ya ke Ci So Ngareng.

Ditekati janjian OL (sebutan online saat itu) di warnet pada waktu yang bersamaan dengan seseorang agar bisa sekedar inboxan. Rela menunggu kluwer-kluwer sinyal GPRS HP D-One. Kuota 20 MB bisa dipakai sepuasnya. Misalpun habis, masih bisa akses 0.facebook biar gratis sekalipun tanpa gambar.

Mulai kenal dengan Grup-grup oprek HP, gretonger, OS Symbian, Opmin Handler, biar bisa internetan dan download gratis. Dinding facebook saat itupun mayoritas diisi orang-orang tak kukenal secara langsung, namun demikian interaksi yang muncul justru interaksi keramahan, tak ada yang namanya caci maki atau apalah namanya seperti yang sekarang. Teringat betul saat kuliah dulu, sebelum mengenal WA, Facebook jadi alternatif utama untuk membahas urusan kepanitian kampus.

Sungguh apapun ceritanya, yang namanya mengenang masa lalu pasti akan selalu membawa romantisme tersendiri.

Sebagai entitas yang bergelut di dunia digital, perubahan merupakan hal wajib yang tidak bisa ditawar-tawar. Sesaat diam di tempat, sesaat itu pula pesaing akan mulai akselerasi overlaps. Berjalannya waktu Sosmed yang 140 juta penggunanya berasar dari warga negara Indonesia ini terus mengalami perubahan. ya betul perubahan, baik dari segi tampilan maupun fitur-fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya.

Jika dulu Facebook sekedar dimanfaatkan sebagai media aktualisasi diri dan komunikasi, kini Facebook telah bertransformasi seperti Pasar yang sangat besar. Ya betul seperti pasar. Coba saja masuk ke dalamnya, kita akan sangat mudah menemukan orang yang saling bertegur sapa, orang yg bertemu dan berkumpul dengan teman sekolah, orang berjualan, orang yang ghibah, orang yang membicarakan apa yang sebenarnya tidak tahu betul apa yang dibicarakan, orang yang bertengkar, orang yang saling curi pandang dan masih banyak yang lain lagi. Persis seperti saat kita masuk pasar betulan.

Kenyataan tersebutlah yang barangkali mulai dibaca beberapa pemimpin daerah. Kebuntuan keran komunikasi antara pemimpin dan rakyatnya karena keterbatasan jarak dan waktu, dapat dibabat habis dengan pemanfaatan Facebook.

Jangankan untuk berkomunikasi dengan pemimpinnya, hanya bermimpi bisa menyapa pemimpinnya barangkali menjadi suatu hal yang sangat wah bagi rakyat.

Eits. . . . tenang itu dulu . . . .

Kini jangankan orang yang dekat dengan lingkaran pejabat, orang yang berada di pelosok pelosok pun dapat berinteraksi dengan pejabat di kota. Menyampaikan segala unek-unek dan sambatan-sabatannya.

Bak gayung bersambut, keniscayaan sosial media ini diterima beberapa pimpinan daerah dengan baik demi mendukung tercapainya Reformasi birokrasi. Dibukalah saluran yang memfasilitasi aduan jika masyarakat menemui hal yang tidak seharusnya terjadi saat instansi terkait melayani masyarakat.

Hasilnya sudah barang tentu bisa kita saksikan bersama. Telah banyak yang diberhentikan dari posisi jabatannya karena tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya ataupun melanggar ketentuan yang ada hasil dari laporan masyarakat. Dampaknya berbagai pelayanan secara berangsur terus meningkat karena disadari atau tidak keberadaan “kamera” yang kini telah ada di genggaman semua orang, sudah siap memotret barangkali ada suatu hal yang melenceng.

Namun demikian sebagai masyarakat tentunya kita harus bijak dalam menggunakan media yang ada saat ini. Karena tidak sedikit orang yang justru harus menelan pil pahit efek dari kesalahan menyebar informasi. Sudah sering mendengar dan melihat berita kan tentang “Bang Jago” yang niatnya memviralkan aparat tapi lupa introspeksi bahwa kesalahan sebenarnya ada pada pribadinya ?
Akhirnya apa?
Ya seperti biasa materai 10.000 dan menanggung rasa malu.

Jika muncul permasalahan dengan suatu instansi alangkah bijaknya terlebih dahulu menjalin komunikasi dengan instansi terkait secara langsung. Agar tidak timbul kesalahpahaman antar keduanya. Setelah dijalin komunikasi kog tidak mendapat jawaban bahkan justru mendapat perlakuan mengecewakan dan tidak seharusnya terjadi, bisa diadukan ke pimpinan yang lebih tinggi lagi.

Misal kog mentog masih ndak ada jalan keluar ya apa boleh buat, barangkali alternatif pilihan “the power of netizen” dapat membantu permasalahan agar yang bersangkutan kewirangan.

Namun tetap, dengan catatan apa yang disampaikan harus sesuai dengan kenyataan yang terjadi, tidak dikurangi, ditambahi, apalagi dibumbui. Tau sendiri kan netizen kita seperti apa, dibanding yang mau memberi solusi, jauh lebih banyak orang yang suka “NGOMPORI” dan “NGEGONGI”.

Yup kuncinya satu jika kita ada suatu permasalahan yang berkaitan dengan individu, organisasi, atau instansi tersebut. Coba konfirmasi sebenarnya duduk permasalahanya bagaimana. Dengan begitu InsyaAllah akan ada jalan keluar terbaik yang akan meminimalisir gesekan-gesekan yang melebar.

Hindari betul melempar sesuatu di media sosial tentang seseorang, atau suatu instansi sebelum mengkonfirmasi secara langsung kepada pihak yang bersangkutan.

Contone, Ono cah lanang ngesir cah wedok, wis banget yakine kwi yen sing wedok yo podo senenge karo dee. Nanging sayange yo kwi, modal mung modal keyakinan thog gak wani nembung.

Eladalah Ngesuke ono kabar yen sg disir kwi mau dilamar wong lanang lio. Ora introspeksi diri, Lakog malah foto tukar cincine cah wedok karo tunangane diupload gae story. Ditambahi caption ngene San “Ngene tho dek sing jarene sayang? Cukup tau Dek, Semoga aku menemukan pengganti yang jauh lebih baik darimu!”

Lo lo lo lo Tangio mas Tangi, Turumu Miring (Lo tenan to mas-mas sg ng foto turune miring)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *